Subscribe Us

header ads

Nahdliyin Penggerak Harmoni Pacarpeluk


Oleh: Nine Adien Maulana

Penduduk Pacarpeluk Kabupaten Jombang mayoritas beragama Islam dengan beragam pilihan fiqih amaliyah ibadahnya sesuai dengan organisasi massa (ormas) masing-masing. Ada yang menjadi jamaah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Ada yang menjadi jamaah thariqah Shidiqiyyah. Ada yang menjadi jamaah Muhammadiyah.
Ada juga yang tidak terikat dengan kultur ormas tertentu, karena sangat jarang tampak terlibat dalam kegiatan ibadah di masjid atau mushalla. Biasanya mereka mengidentifikasi diri sebagai masyarakat nasionalis. Tetapi, warga dengan kultur Nahdliyyiin adalah mayoritas karena merupakan kultur yang lebih dulu ada di desa ini. Ada juga penduduk yang beragama selain Islam. Jumlahnya tidak lebih dari lima keluarga. Oleh karena itu identitas keagamaan mereka tidak begitu tampak dalam keseharian.
Dulu, keragaman ini memang pernah mengalami sedikit gesekan, khususnya saat ada sekelompok warga yang menghadirkan kultur keagamaan baru yang berbeda dengan kultur yang telah ada lebih dulu. Mungkin karena masih terbatasnya pemahaman keagamaan yang dimiliki oleh masing-masing penganut kultur lama dan baru, sehingga sering kali terjadi perang dingin di antara mereka. Saling sindir kerapkali terjadi dalam komunikasi massa.
Masing-masing tokoh pemukanya sangat kaku dalam mengamalkan pilihan fiqihnya. Sikap ini pun akhirnya merambat kepada para pengikutnya. Upaya perebutan jamaah kerap terjadi dengan model pemberian santunan materi ala Sinterklas. Waktu itu sering dijumpai ada warga yang berpindah kultur dengan ditandai berpindahnya tempat shalat. Awalnya mereka berkultur dan shalat di masjid atau mushalla Nahdliyin, kemudian berpindah ke kultur dan masjid atau mushalla non-Nahdliyin. Ada juga yang setelah pindah, dengan berbagai alasan kemudian kembali lagi menjadi jamaah Nahdliyin.
Dengan model dakwah seperti itu, akhirnya jamaah non-Nahdliyyiin bertambah banyak. Mereka mendirikan masjid dan mushalla sendiri.  Mereka menjadi kelompok yang eksklusif daripada kebayakan warga lainnya yang berkultur Nahdliyin. Akibatnya rasa saling curiga semakin mewarnai dinamika pergaulan sehari-hari. Rumor dan bahkan mungkin fitnah pun berembus, entah daripada asalnya, bahwa selain warga selain jamaahnya adalah najis. Jika mereka masuk masjid atau mushallanya, maka tempat itu harus dipel untuk menghilangkan najisnya. Meskipun kabar burung itu sangat santer, tetapi Penulis tidak pernah mengetahui dan membuktikannya sendiri, padahal Penulis berkali-kali masuk bahkan ikut shalat di masjid atau mushalla itu.
Kebersamaan, keguyuban dan keharmonisan antarwarga terasa sangat sulit dihadirkan, apalagi dalam hal yang berkaitan dengan kegiatan keislaman. Masing-masing berjalan sendiri-sendiri dengan mengunggulkan kelompoknya yang paling baik. Dalam hal-hal tertentu keadaan ini sering memancing perasaan emosional yang hampir-hampir menyulut pertikaian fisik.
Semua itu adalah gambaran masa lalu kehidupan keagamaan di Pacarpeluk. Semua itu adalah masa-masa kelam sebelum datangnya cahaya. Semua itu adalah sejarah kelabu karena keterbatasan ilmu. Ibaratnya, semua itu adalah masa jahiliyah sebelum hijrah ke Madinah dan Fathu Makkah.
Tapi kini hal itu tiada lagi. Masing-masing jamaah telah bertambah ilmu. Masing-masing jamaah semakin tinggi menempuh pendidikan. Dengan bekal itu, mereka semakin bijaksana dalam bersikap dalam beragama. Mereka semakin menghormati pilihan fiqih masing-masing. Mereka rindu kebersamaan, keguyuban, dan keharmonisan sebagai warga Pacarpeluk dalam hal-hal yang bisa dikerjasamakan, tetapi pada awalnya tidak berani memulainya.
Dengan niat mulia mencari persamaan di antara pilihan fiqih dan kultur keagamaan yang berbeda itu Pengurus Takmir Masjid Baitul Muslimin Dusun Peluk mengawali membuka komunikasi dengan jamaah non-Nahdliyin. Gayung pun bersambut. Komunikasi yang cair itu pun akhirnya berbuah kesepahaman dan kebersamaan dalam kerja sama. Mereka pun bisa mengadakan kegiatan takbir Idul Fitri bersama. Mereka pun bisa saling mengundang dalam acara seremonial tertentu. Mereka juga bisa saling berkoordinasi dalam pembagian daging qurban. Bahkan, dengan difasilitasi oleh Pemerintah Desa Pacarpeluk, mereka juga bisa saling hadir dalam shalat Isya’ dan Tarawih di masjid masing-masing dengan pilihan fiqihnya masing-masing. Semua ini menjadi titik balik menuju cahaya keharmonisan meninggalkan kegelapan fanatis buta.
Dengan memahami konteks sosial seperti itu, ketika Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Pacarpeluk mengaktifkan Unit Pengumpul Zakat, Infaq dan Shadaqah (UPZIS) dengan program Gerakan Pacarpeluk Bersedekah, maka mayoritas warga yang beragam itu berpartisipasi mendukungnya. Mayoritas warga sadar bahwa kemanfaatan program ini akan kembali kepada masyarakat Pacarpeluk secara langsung. Mungkin mayoritas warga juga sadar bahwa PRNU Pacarpeluk telah terbukti bisa terbuka dan bijaksana dalam menyikapi perbedaan pilihan fiqih masing-masing. Mungkin atas dasar itulah, program PRNU Pacarpeluk ini mendapat dukungan dari berbagai pihak non-Nahdliyin dan non-Muslim.
Kelak setelah program-program populis penyaluran dana sedekah itu terrealisasi dan dapat segera dirasakan oleh masyarakat, maka dapat diprediksi dukungan untuk PRNU Pacarpeluk akan semakin besar dan kuat. Meskipun penggeraknya adalah Nahdliyin, warga yang beragam itu tidak lagi merasa beda atau eksklusif. Atas dasar itulah PRNU Pacarpeluk juga tenggang rasa terhadap warga pendukung yang beragam itu. Salah satu wujudnya adalah mengganti nama kartu layanan kesehatan yang awalnya akan dinamakan Kartu Nahdliyin Pacarpeluk Sehat (KNPS) menjadi cukup Kartu Pacarpeluk Sehat (KPS).
Sungguh indah kebersamaan ini. Masyarakat semakin dewasa dalam bersikap. Umat Islam Pacarpeluk semakin dewasa dalam persaudaraan (ukhuwah), meskipun berbeda pilihan fiqih atau ormasnya. Masing-masing bisa saling memberi dan menerima, tanpa ada lagi kecurigaan dan kekhawatiran berpindahnya jamaah. Jamaah pun juga semakin cerdas untuk menentukan siapa yang paling layak didukung untuk dijadikan motor penggerak harmoni warga Pacarpeluk, tanpa harus terkungkung sikap fanatis buta pada ormasnya masing-masing.
Tampaknya warga Pacarpeluk semakin sadar mana sarana dan mana tujuan. Semoga harmoni senantiasa mewarnai dinamika kehidupan di desa ini.

Penulis adalah Ketua Tanfidziyyah Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Pacarpeluk

Post a Comment

0 Comments