Subscribe Us

header ads

Fenomena NU Pacarpeluk


Ketika banyak orang mempertanyakan ke-NU-an saya, bahkan ada yang menuduh saya sebagai NU susupan, Didin A. Sholahuddin, saat itu ketua NU Care-LAZISNU Jombang, adalah orang yang paling mendukung pemikiran dan gerakan saya dalam menggerakkan Nahdlatul Ulama (NU) Pacarpeluk melalui pengelolaan Zakat, Infak dan Sedekah. "Pak Adien, sampean bergeraklah terus. Tunjukkan prestasi dan khidmat untuk NU. Pasti mereka tidak akan berani macam-macam lagi. Jangan lupa sampean juga harus ikut PKPNU.", saran pemilik Yayasan Roushon Fikr Jombang itu.
Saya harus mengakui bahwa pak Didin, demikian saya sering memanggilnya, adalah orang yang memberi mentoring kepada saya terhadap apa yang terjadi di NU Pacarpeluk. Dia adalah think tank UPZISNU Pacarpeluk, sedangkan kami adalah operator lapangannya. 
"Oke pak. Bismillah, siap.", jawab saya dengan mantap. Saya mengikuti semua sarannya, termasuk mengikuti Pendidikan Kader Penggerak NU di MWC NU Mojoagung, yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Babus Salam Kalibening.
Pengelolaan Zakat, Infak dan Sedekah menjadi pintu awal menggerakkan jam’iyyah dan jamaah NU. Gerakan Pacarpeluk Bersedekah dan Kartu Pacarpeluk Sehat menjadi branding benar-benar memikat, sehingga berbuah dukungan masyarakat yang massif. Upaya saling menghidupi antara jama’ah dan jam’iyyah NU di Pacarpeluk benar-benar terwujud di desa ini. NU dan badan-badan otonomnya pun bangkit dan berkreasi setelah sekian lama mati suri.
Kebanggaan menjadi bagian dari jamaah dan jam’iyyah NU pun muncul. Setidak-tidaknya itulah yang terjadi pada diri saya. Mengucapkan NU atau Nahdlatul Ulama di berbagai forum dan kesempatan tidak lagi penuh malu, tapi menjadi mantap dan penuh percaya diri. Hal ini terjadi setelah NU secara jam’iyyah mampu memberi kontribusi nyata kepada jamaah NU di desa ini.  
Tidak hanya itu, melalui keterampilan jurnalistik, saya menebarkan berbagai tulisan yang menjadi buzzer di media sosial dan media online. Dalam waktu singkat, perhatian mayoritas masyarakat NU tertuju kepada Pacarpeluk. Apalagi ketika NU Pacarpeluk telah melaunching webblog resminya, www.nupacarpeluk.com, maka sounding NU Pacarpeluk semakin gencar dan keras terdengar di berbagai belahan dunia. 
Salah seorang Nahdliyyin yang tinggal di Australia ternyata mengaku sering membuka dan membaca www.nupacarpeluk.com. Webblog ini juga konon sering dibuka dan dibaca oleh para teman-teman yang ada di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Sungguh ini adalah fenomena yang sangat menarik, berangkat dari ranting namun bisa menjadi tranding topic secara global.
Saya tidak berani mengatakan bahwa apa yang telah terjadi di PRNU Pacarpeluk adalah prestasi. Biarlah orang lain yang menilainya sendiri. Yang jelas apa yang telah digerakkan oleh PRNU Pacarpeluk benar-benar bisa saling menghidupi jamaah dan jam'iyyah NU di desa ini secara nyata.
Tidak hanya jamaah NU yang merasakan manfaat kiprah jam’iyyah ini. Seluruh warga Pacarpeluk yang majemuk juga bisa merasakan manfaatnya. Ada jamaah LDII, Shidiqiyyah, Muhammadiyah, Masyarakat awam (abangan), dan Kristen. Semuanya merasakan manfaat keberadaan jam’iyyah warisan para kyai ini.  
Sebaliknya, saya memberanikan diri mengatakan bahwa apa yang telah berlangsung di NU Pacarpeluk ini telah menginspirasi banyak orang. Ranting-ranting NU di Jombang kini mulai tergerak untuk mengikuti jejak NU Pacarpeluk. Ribuan kaleng koin sedekah telah tersebar di seluruh pelosok desa di Jombang. 
Tidak hanya di dalam Jombang, para penggerak NU di luar Jombang pun ingin mengikutinya. Penggerak NU Sidodadi, Mantup, Lamongan sudah datang ke NU Pacarpeluk. Penggerak NU Jawa Tengah sudah mengontak NU Pacarpeluk melalui sambungan online. Penggerak NU Saradan, Madiun dan Waru, Sidoarjo pun juga akan segera datang ke NU Pacarpeluk. Mereka ingin membuktikan sendiri apa yang telah berlangsung di Pacarpeluk, sekaligus mengadopsi dan mengadaptasi apa yang bisa diterapkan di daerah masing-masing.
Beberapa hari yang lalu, ada beberapa mahasiswa UNWAHA Tambakberas yang datang ke NU Pacarpeluk. Mereka bermaksud melakukan riset di NU Pacarpeluk tentang pengelolaan UPZISNU. Ketua NU Care LAZISNU Pusat yang ternyata juga orang Jombang, dikabarkan juga akan datang ke desa ini. Saya meyakini bahwa akan terus ada tamu-tamu istimewa yang hadir di NU Pacarpeluk.
Hal ini menjadi penyemangat bagi para penggerak NU Pacarpeluk untuk terus bergerak demi kemaslahatan bersama. Kini UPZISNU Pacarpeluk mulai menyosialisasikan kewajiban zakat maal bagi muslim yang telah memenuhi syarat. Kampanye penyaluran zakat maal di UPZISNU Pacarpeluk terus dilakukan, setelah Gerakan Pacarpeluk Bersedekah berjalan dan memberi manfaat selama enam bulan ini.
Penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah dalam bidang pendidikan dan ekonomi produktif kini sedang dirancang dan dirumuskan. Lagi-lagi saya meminta bantuan kepada pak Didin untuk merancangnya secara realistis untuk diterapkan di desa ini. Permintaan bantuan ini pun disambut dengan antusias oleh pria yang baru saja dilantik sebagai Direktur Eksekutif NU Care LAZISNU Jawa Timur.
Jika pemberdayaan ekonomi produktif ini bisa dilakukan oleh NU Pacarpeluk, maka kemandirian jamaah dan khususnya jam’iyyah ini benar-benar bisa diupayakan dengan nyata. Momentum bangganya kembali jamaah kepada jam’iyyah NU tidak boleh hilang begitu saja. Momentum ini harus bisa bernilai produktif. Inilah yang sedang dirancang oleh NU Pacarpeluk.
Ini bukanlah mimpi utopis, tapi sangat realistis, karena potensi itu ada dan sudah tampak muncul di permukaan. Mulai bangkitnya NU dan badan-badan otonomnya di Pacarpeluk adalah potensi yang bisa dimanfaatkan untuk mewujudkan mimpi itu. Pengelolaan dana sedekah yang ada juga bisa dijadikan sebagai modal awalnya. Tinggal sekarang adalah merancang konsep secara terukur dan kemudian mengeksekusinya dalam gerakan ekonomi produktif secara praktis.
NU Pacarpeluk kini memang telah menjadi fenomena kebangkitan. Semoga fenomena ini juga muncul di berbagai desa yang lain, sehingga menjadi fakta kebangkitan NU secara kolektif. Kebangkitan itu diawali dari semangat kemandirian di jamaah dan jam’iyyah di tingkat ranting melalui pengelolaan Zakat, Infak dan Sedekah secara kreatif, amanah dan profesional. Atas dasar itulah saya memiliki tesis bahwa proyeksi kebangkitan kembali NU pada tahun 2026 berangkat dari ranting melalui kemandirian ekonomi.
Bisa jadi tesis saya itu salah, namun mari kita bersama-sama bergerak membuktikannya. Jangan sekadar berpolemik atau saling merecoki. Mari bergerak bersama-sama untuk kemaslahatan bersama di lingkungan terdekat kita. Masyarakat kita makin cerdas memilih dan mengikuti siapa yang hanya beretorika siapa yang memberi fakta kemaslahatan.

Mari bersama-sama membangun prinsip bahwa berprestasi adalah ibadah dan menginspirasi adalah dakwah. Dengan prinsip itu hidup kita akan semakin bermakna dan upaya saling menghidupi antara jamaah dan jam’iyyah NU benar-benar nyata, bukan sekadar retorika. Waallaahu a’lami bis shawab. {abc}

Post a Comment

0 Comments