Subscribe Us

header ads

Menakar Respon Cerdas NU Atas Jerussalem


Oleh: 
Didin A Sholahudin
Wakil Ketua PCNU Jombang

Sungguh, sulit untuk tak terpukau dan kagum atas reaksi spontan Partai Keadilan Sejahtera (PKS),  menyikapi keputusan Donald Trump atas Tanah Al Quds / Jerussalem. Para petinggi partai dan ribuan massa yg berkiblat Pada Ikhwanul Muslimin sebagai Role model hadir memutihkan jalan sepanjang jalur menuju Kedubes AS. Dalam hitungan empat hari sejak pidato Trump, ribuan simpatisan secara kompak mampu dihadirkan dan bergerak massif lengkap dengan membawa alat peraga demo yang dikemas secara seragam dan menarik (10/12)
Jujur,dan mohon dipahami; sebagai Kader NU, Prolog diatas tak bermaksud memberi pujian berlebih. Tak bermaksud pula memberi penguatan bahwa mereka lebih responsif. Ini semua lebih pada otokritik kepada kita, atas kemampuan mengelola management issue yang bernuansa Politik Global dapat menarik simpati umat islam di Indonesia pasca rentetan Reuni 212 (dalam bulan yang sama,pada tagline yang berbeda), Peta Politik Internasional pun berubah dengan tajuk kedaulatan Palestina yang di rampas
 Toh....saya tetap percaya diri bahwa NU akan mampu melakukan langkah lebih Strategis dan Taktis dalam mengelola Konflik Palestina.
Problematika realitas yang terjadi, Percayakah massa Nahdliyyin baik sebagai Jamaah maupun Jam'iyyah petinggi NU mampu menyelesaikan problem keumatan seperti ini dengan "diam-diam, sekedar rasan - rasa" dan tanpa melibatkan massa besar Nahdliyyin?
Yang wajib dipahami, issue Palestina sungguh sangat sexy untuk ditinggalkan dalam upaya memberi Perhatian dan Kemanfaatan maksimal bagi umat Islam khususnya di Indonesia, umumnya issue kedaulatan negara di belahan dunia sebagai kesepakatan bilateral yang dihianati sepihak,  Beda dg isuse pilkada Jakarta yg teramat liar dan sarat politisasi atas nama agama; sikap NU bisa dimahfum dan dapat dipahami dalam konteks ini !
Sementara jika issue Palestina, NU juga berdiam diri dan membiarkan massanya untuk bergerak sendiri, sungguh tak dapat disalahkan jika banyak Nahdliyyin yang berduyun cari persinggahan gerakan untuk lampiaskan empati dan rasa geramnya.
Ada alasan yang harus  diketahui publik Nadhliyyin dengan idiom Islam Nusantara.
Pembuktian Fakta Sejarah antara Jerusalem atau Al-Quds dan Indonesia ada tautan "Persaudaraan" yang erat, yakni adanya jejak Palestina di Tanah Jawa. Nama Al Quds telah diabadikan oleh Raden Jakfar Shodiq seorang Senopati Kerajaan Demak Bintoro yang kemudian lebih dikenal sebagai Sunan Kudus yang hingga akhirnya diabadikan menjadi Kota Kudus, serta Masjid Al- Aqsa menjadi nama Masjid Menara Kudus yang terkenal; yang konon ada beberapa  batunya adalah hadiah saat Jakfar Shodiq merantau mencari ilmu di Jerusalem.
Teringat Khotbah Imam Masjidil Aqsa Syekh Yousef Abu Sneineh pada sholat Jumat (8/12) " Yang kami inginkan dari para pemimpin Arab dan muslim adalah tindakan nyata dan bukan pernyataan kecaman saja''. Ini adalah sindiran Satire atas sikap Arab Saudi yg plin plan dan cenderung mendukung proposal AS, Mesir yg sudah tak bergigi, dan Suriah dan Iraq -- yg dulu diharap -- sekarang sudah tiarap.
Inilah mengapa Indonesia -- dan NU, Muhammadiyah dan Ormas Islam lainnya -- ditunggu peran dan aksi nyatanya.
Benar !! NU sdh mencantumkan secara konkret di Muktamar 33 Jombang perihal empat Rekomendasi terkait Palestina. Namun, itu semua belumlah cukup. Harus ada Sikap Tegas, Terstruktur, Terpimpin , dan Massif dari PBNU untuk mengerahkan Potensi massa nya agar melakukan aksi damai massal yang simpatik, dan Psy War Medsos untuk mempengaruhi Publik dunia agar membatalkan keputusan Trump, bila perlu melakukan yang tidak dilakukan oleh ormas manapun, yakni mengeluarkan Jurus Tafa'ulan Komite Hijaz sebagai Cikal bakal lahirnya NU.
Bahkan, ketika NU Melakukan Atraksi terjun bebas, tetap harus dengan mengedepankan domain Fikrah Nahdliyah, yakni: Tawasuthiyah (moderat),Tasamuhiyah (toleran), Ishlahiyah (reformatif),Tathawuriyah (dinamis),Manhajiyah (metodologis). Konteksnya jelas agar NU menjadi lebih bermakna, bernilai lebih dan mengembalikan Ruhiyyah Perjuangan yang sudah di sepakati sebelumnya dengan action yang konkrit pada momentum yang tepat dengan menjaga grassroot Nahdliyyin agar tidak mudah terbawa arus jaman & kedepanpun musim pilkada serentak jelas sebagai ujian dari Kesaktian Khittah NU yang dipertaruhkan.
Jika dalam Problem ini, NU bisa melakukan atraksi indah serta mampu  berada di posisi terdepan; maka  "Imam umat Islam Indonesia" pantas disematkan kepada NU. Dan pasti kedepannya akan selalu  dinanti dalam pencarian solusi dari perjalanan panjang mengawal kemerdekaan Palestina.
Ingat, NU seringkali mampu kumpulkan massa di acara acara besar seperti Istighotsah Akbar, Silatnas Kader NU, Harlah NU, dll dengan tajuk acara internal. Nah, bukankah akan lebih bermakna dan bermanfaat untuk muslim sedunia, jika NU melaksanakan, dimulai dengan acara serupa yang di kemas secara massif dengan waktu & hari yang sama dilakukan dengan Paralel dengan Tajuk : DO'A INDONESIA UNTUK PALESTINA !!! Serta diakhiri dengan Qunut Nazilah.
Hanya kepada Allah kami berikhtiar, bermunajat, dan berserah diri. Semoga pertolongan Nya akan hadir dalam langkah perjuangan saudara kami di Palestina. {abc}

Post a Comment

0 Comments