Subscribe Us

header ads

Shalat Tawadlu'

Saat ngaji pada rutinan Ahad Pahing MWCNU Jombang di Masjid Al-Hilal Pulo Lor Jombang, Ahad (7/1/2018), Rois Syuriah MWCNU Jombang sekaligus Pengasuh PP Assaidiyah 2 Bahrul Ulum Tambakberas, KH Ahmad Hasan, menjelaskan tafsir QS Alhaj 77.
Ayat tersebut menyeru orang beriman untuk melakukan empat hal agar menjadi orang beruntung. Irka’u, rukuklah. Wasjudu, sujudlah.  Wa’budu, beribadahlah. Waf’alul khoiro, berbuat baik.
Kiai Hasan lantas menjelaskan tafsir yang disampaikan Syekh Nawawi Al Bantani, kakek Ketua MUI Pusat sekaligus Rois Syuriah PBNU, KH Ma’ruf Amin.
“Rukuklah seperti tawadluknya hewan. Tinggalkanlah kesombongan berdiri”, ujarnya. Orang sombong selalu menegakkan kepala tinggi-tinggi. Seakan-akan lebih tinggi dari siapapun. Bahkan lebih tinggi dari gunung.
Shalat mengajarkan ketawadluan. Makanya saat shalat, pandangan disuruh mengarahkan pada tempat sujud. Sampai-sampai Rosulullah SAW menyatakan, aku khawatir mata kalian akan dibutakan jika mendongakkan pandangan dalam shalat.
Saat rukuk, posisi manusia seperti hewan yang selalu tawadlu. Tidak pernah sombong dan mengangkat kepala. “Kepala binatang selalu disamping, tidak pernah diatas. Karena itu tidak ada binatang yang sombong”, jelasnya.
Ketawadluan ini membuat hewan selalu memberi manfaat. Dia tidak mati sebelum memberikan daging yang banyak kepada manusia.
Kedua, sujudlah seperti kehinaan tumbuhan. Merasa hina dihadapan Allah yang maha kuasa dan maha pencipta. Manusia kepalanya di atas. Hewan kepalanya di samping. Tumbuhan kepalanya di bawah. ’’Dengan kepala di bawah ini, tumbuhan justru mampu memberikan manfaat.’’ Tumbuhan menyerap air sehingga manusia tak pernah kekeringan. Tumbuhan juga memberikan manfaat lewat daun, buah, dan lain-lain.
Orang tawadlu, hidupnya mulia dan bermanfaat.
Saat ngaji dalam Maulid Nabi Muhammad SAW di PP Sunan Ampel Jombang, Rabu (29/11/2017), Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf Pasuruan menjelaskan perkataan Syekh Abdul Qodir Al Jaelani tentang pentingnya tawadlu.
“Syekh Abdul Qodir menyatakan, mendapat pangkat kewalian dari Allah bukan karena ibadahnya”, jelasnya. Padahal ibadah beliau notok jedok. Selama 40 tahun beliau shalat Subuh dengan wudlu-nya shalat Isya. Ini berarti beliau selepas shalat Isya, shalat terus hingga datang waktu shalat Subuh. Beliau juga selalu punya wudlu. Walaupun saat turun salju, setiap kali batal wudlu, beliau langsung wudlu lagi.
Syekh Abdul Qodir menyatakan mendapatkan pangkat kewalian karena tiga hal. Pertama, sakho alias dermawan. Kedua, tawadlu. Ketiga, salamatus shadr alias bersihnya hati dari segala macam penyakit  hati.
“Imam Syazili menyatakan, orang tawadlu itu seperti bintang yang bisa dilihat dalam air. Seakan-akan dia ada dibawah, namun sebenarnya dia ada di atas. Sebaliknya, orang sombong itu seperti asap, memang terbang keatas, tapi lantas hilang tak berbekas.”
Semoga Allah memberi kita taufik dan hidayah sehingga bisa tawadlu dalam shalat, sehingga shalat kita semakin khusyu. Dan kita semakin bermanfaat bagi orang lain. {mam}

Post a Comment

0 Comments