Subscribe Us

header ads

Toleransi Gadungan atau Bid'ah Toleransi


Oleh: Nine Adien Maulana

Guru Madrasah Diniyah Baitul Muslimin dusun Peluk


Guru Pendidikan Agama Islam sering dituduh makin intoleran, karena menyetujui penerapan Islam di Indonesia. Alasan ini tentu sangat kontraprodutif, karena persetujuannya adalah konsekwensi pemahamannya atas syariat Islam. Syariat tidak sekadar menjadi wacana ilmu dalam kelas pembelajaran, tapi juga menjadi pedoman hidup dalam kehidupan sehari-hari.
Soal bagaimanakah model penerapannya,  maka hal itu adalah hal lain yang perlu dikaji secara ilmiah dan bijaksana sebagai bentuk ijitihad politik dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Apakah logis jika guru Pendidikan Agama Islam mengajarkan syariat Islam kepada murid-muridnya, namun dia sendiri tidak menyakini kebenarannya?  Misal, guru PAI mengajarkan materi tentang pernikahan. Setelah semua materi itu disampaikan dan dikuasai oleh murid-murid baik secara kognitif, afektif dan psikomotor, kemudian guru itu menyatakan, “Anak-anak, ini adalah materi pembelajaran sebagai tuntutan kurikulum. Tujuannya adalah agar kalian mendapat nilai di buku rapor. Nanti jika kalian menikah silakan menggunakan atau tidak menggunakannya”    
Inilah yang seringkali diabaikan oleh orang-orang yang atas nama hasil riset kemudian menuduh guru-guru Pendidikan Agama Islam makin tidak toleran. Mereka semata-mata mengukur perilaku toleran dan intoleran berdasar pada indikator yang masih bersayap, debatable, dan multitafsir, serta masih membutuhkan penjelasan lagi yang tidak bisa dipisahkan dari pilihan sikap awal. Selain itu, ada bebarapa hal yang dianggap sebagai indikator itu, masuk dalam wilayah akidah sebagai konsekwensi bersyahadat dan ketaatan kepada syariat.
Ukuran toleransi atau tidak toleransi seharusnya tidak masuk pada wilayah akidah atau keyakinan privat seseorang. Jika ini dijadikan ukuran, maka semua orang beragama pasti dianggap tidak toleran terhadap umat beragama lain, karena masing-masing pasti meyakini kebenaran agamanya sendiri-sendiri. Sebagai misal, karena penulis bersyahadat tauhid bahwa tiada tuhan selain Allah. Sebagai konsekweksinya, penulis menafikan segala tuhan selain Allah SWT. Ini adalah keyakinan privat yang harus ditanamkan dalam hati setiap orang yang bersyahadat tauhid. Hal ini pasti juga terjadi pada umat beragama lain, mereka hanya meyakini tuhannya dan tidak menganggap tuhan umat beragama lain.
Sikap toleransi itu seharusnya diukur dalam wilayah sosial kemasyarakatan. Jika atas nama kebenaran keyakinan privat atas Tuhannya ikut diekspresikan dengan menghina, merendahkan dan menistakan keyakinan umat beragama lain, maka inilah salah satu wujud intoleransi yang nyata. Jika atas nama kebenaran agama atau golongan sendiri, kemudian menganggap umat beragama atau golongan lain tidak layak berada dalam naungan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka itulah contoh intoleran yang sangat nyata.
Setelah para guru Pendidikan Agama Islam dilabeli makin tidak toleran, muncullah fenomena penyelenggaraan seremonial keagamaan dengan peserta lintas agama/iman. Acara semacam ini diklaim sebagai upaya menyemaikan toleransi. Benarkah hal itu memang menyemaikan toleransi?
Sejak dulu masyarakat kita sudah mengetahui adanya kemajemukan. Mereka bisa saling menghormati secara alami. Mereka tidak mencampuradukkan hal-hal yang berhimpitan dengan masalah akidah dan syariah. Masing-masing berjalan dengan aman dan damai sesuai dengan keyakinan yang dianutnya. Isu intoleran juga tidak pernah dihembus-hembuskan.
Kini muncul gejala mencampuradukkan hal-hal yang berhimpitan dengan masalah akidah dan syariah yang diklaim sebagai model pelestarian toleransi. Mereka mengampanyekannya seolah-olah dicitrakan sebagai model baru percontohan dalam hal toleransi. Padahal, tanpa disadari apa yang mereka kampanyekan itu telah menimbulkan intoleransi baru kepada masyarakat secara alami saling menghormati dan menghargai perbedaan keyakinan, tanpa harus mencampuradukkannya.
Jika model ini terus dikampanyekan sebagai model toleransi, jangan ragu mengatakannya sebagai toleransi gadungan, sebagaimana yang dituliskan oleh Binhad Nurrohmad dalam dinding Facebooknya. Saya sependapat dengan istilah toleransi gadungan yang dikemukakannya itu. Dalam bahasa lain ini saya sebut sebagai bid’ah toleransi yang tidak berakar dari budaya telah berjalan secara alami di negeri ini.  
Saya mengutip penuh komentar lengkap penyair yang tinggal di Jombang ini. Di bawah ini adalah komentarnya.
Ketika seseorang yang bukan teolog/ulama atau bukan orang yang berkapasitas dalam perkara  iman/agama latah menggagas dan menyelenggarakan suatu hajatan lintas-iman/agama di tempat ibadat, barangkali pelakunya mengira hajatan ini teknis belaka seperti arisan, festival menyanyi atau turnamen gaple di alun-alun. Ini adalah suatu pelecehan terang-terangan.
Atas nama dan dengan semangat toleransi sebesar apa pun jika tanpa kapasitas pengetahuan dan kearifan sosial, suatu hajatan lintas-iman/agama justru bisa kontraproduktif atau merusak kedamaian lintas-iman/agama. Ini sejenis wujud dari adagium Jawa rumongso iso nanging ora iso rumongso’.
Dampak dari toleransi yang intoleran semacam itu bisa memercikkan api konflik, menjadi gosip atau rerasan kecemasan di ruang tertutup dan ruang publik. Yang semula tak ada masalah justru menjadi bermasalah. Juga berakibat citra luhur istilah toleransi menjadi cela dan hancur. Ini sejenis kejahatan sosial berbulu toleransi atau menunggangi toleransi.
Toleransi gadungan semacam itu bisa timbul dari orang yang tak bisa menakar diri atau yang terlalu memaksakan diri seperti orang dungu yang bernafsu turut campur dalam urusan khalayak luas. Ini suatu kesombongan yang perlu diberi hadiah tahun baru berupa cermin kepatutan dan kerendahan hati.
Toleransi gadungan atau bid’ah toleransi ini memang bisa menjadi media membangun popularitas pengusungnya. Hal ini sejalan dengan kaidah khaalif tu’raf, berbedalah niscaya engkau akan terkenal. Sayangnya popularitas itu hanya memicu sikap intoleran baru kepada mayoritas masyarakat telah damai dan rukun dalam keragaman dan perbedaan keyakinan.
Sudahlah jangan ajari dengan toleransi gadungan atau bid’ah toleransi semacam ini. Biarlah kami tetap berjalan secara alami sebagai yang telah diwariskan nenek moyang yang terbukti menghadirkan kedamaian. Biarlah kami menggali kearifan lokal pribumi dalam hal toleransi. Jangan paksakan kami dengan model-model baru yang justru berpotensi menyulut api intoleran baru yang menghilangkan identitas sendiri. {abc}   

Post a Comment

0 Comments