Subscribe Us

header ads

Catatan yang Teringat dari RAKORNAS NU CARE LAZISNU ke-3 di Ponpes Wali Songo Sragen



Pengurus Pusat NU Care LAZISNU telah menyelenggarakan Rapat Kordinasi Nasional (RAKORNAS) di Sragen, Jawa Tengah, 29-31 Januari 2018. Temanya adalah “Arus Baru Kemandirian Ekonomi NU, Menyongsong 100 Nahdlatul Ulama”.
Kegiatan ini bertempat di Pondok Pesantren Wali Songo Sragen. Sragen dipilih sebagai tempat penyelenggaraannya sebagai apresiasi terhadap prestasi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sragen yang telah sukses mengelola program KOIN NU.   
NU Care LAZISNU Jombang mengirimkan 7 (tujuh) delegasi dalam acara ini. Mereka adalah Ahmad Zainuddin, S.Pd. MMA (Ketua), Nasrulloh Fakhrudin AA (Sekretaris), Irqima Azzah, S.Pd. (Manager Accounting), Mohammad Syahal Masrur (Manager Program), Moch. Sabilil Faroshi A. (Manager Fundrising), Moh. Hisyam Fahmi (UPZISNU Mojowarno), dan Nine Adien Maulana, (UPZISNU Pacarpeluk).
Hujan turun sangat lebat menyambut kedatangan delegasi Jombang saat memasuki kota Sragen. Hingga sampai di lokasi acara seremoni pembukaan, hujan deras tak kunjung reda. 
Ada beberapa catatan yang saya ingat selama mengikuti kegitan tersebut. Tentunya catatan ini sangat subyektif, karena memang ditulis berdasarkan kesan indrawi atas pengamatan saya. 
Saat seremoni pembukaan acara acara, perhatian saya tiba-tiba tertuju pada materi pidato yang disampaikan oleh wakil bupati Sragen. Meskipun pidato itu disampaikan secara singkat, karena waktu itu telah masuk waktu shalat Maghrib, namun saya menangkap kesan bahwa penyampainya adalah orang yang kaya pengetahuan atau referensi bacaannya. Hal ini sangat beda dengan pidato-pidato sebelum-sebelumnya yang terkesan yang sangat normatif. 
Acara berikutnya setelah seremoni pembukaan adala paparan presentasi best practice keberhasilan PCNU Sragen dalam pengelolaan program KOIN NU. Istilah koin sebenarnya bermakna dua. Yang pertama adalah uang koin sebagai gambaran nilai uang yang paling kecil, sehingga memberikan kesan ringan dan tidak membebani jamaah. Yang kedua, KOIN adalah akronim dari Kotak Infak, karena memang tempat infak itu berbentuk kotak kecil yang dibagikan kepada para warga.
Paparan ini langsung disampaikan oleh KH. Ma’ruf Islamuddin, selaku ketua tanfidziyyah PCNU Sragen. Pengasuh Pondok Pesantren Wali Songo ini juga mengajak beberapa ketua lembaga mendampinginya serta juga memberikan presentasi sesuai dengan lembaganya.
Setelah mencermati paparan seluruh penggerak NU Sragen itu, saya menangkap pesan bahwa keberhasilan NU Sragen dalam program KOIN NU itu karena digerakkan langsung oleh PCNU yang diteruskan oleh MWC NU hingga PRNU. NU Care LAZISNU PCNU Sragen menjadi pihak pencatat, pengelola dan penyalur dana KOIN NU itu. Penyalurannya dilakukan melalui lembaga-lembaga yang ada. Dengan demikian semua kepengurusan NU Sragen menjadi bergerak secara serentak.
Menurut saya, ini adalah benang merah mengapa dalam waktu singkat PCNU Sragen mampu mendapatkan dana infak dalam jumlah Milyaran Rupiah. Hal ini berbeda dengan daerah lain, misal Jombang, yang juga menjalankan program serupa dalam model kaleng infak. Program ini hanya ditangani oleh LAZISNU.
Meskipun Jombang termasuk daerah yang kreatif dan sukses mengelola LAZISNU, namun perolehan koin infak dan sedekahnya tidak sebombastis Sukabumi dan Sragen. Atas kreativitas dan kesuksesannya, delegasi Jombang diberi kesempatan waktu untuk memberikan testimoninya.
Dalam testimoni yang disampaikan oleh penggerak UPZISNU Pacarpeluk disampaikan bahwa pada tahun 2017 NU Care LAZISNU Jombang mampu melakukan pencataan pemasukan dan penyaluran Zakat, Infak dan Sedekah hingga mencapai angka lebih 56 Milyar Rupiah. Sungguh ini adalah angka fantastis yang banyak membuat peserta Rakornas terperanjat kagum. Akibatnya, ketua NU Care LAZISNU Jombang pun harus dengan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan peserta lain yang penasaran dan ingin menggali informasi.
Rasa penasaran peserta Rakornas semakin memuncak saat penggerak UPZISNU Pacarpeluk memaparkan Gerakan Pacarpeluk Bersedekah dengan berbagai program penyalurannya. Paparan ini juga semakin mengagetkan, ketika para peserta Rakornas diminta secara langsung membuka www.nupacarpeluk.com yang telah mempublikasikan semua hal tentang UPZISNU Pacarpeluk.
Setelah testimoni delegasi NU Care LAZISNU Jombang, banyak daerah yang kemudian menyampaikan testimoni kesuksesannya masing-masing, padahal mereka tidak diminta oleh panitia. Ketika sesi tanya jawab dibuka, mereka mengacungkan tangan. Bukannya menyampaikan pertanyaan, tapi mereka malah mempromosikan kesuksesan masing-masing. Hal ini berlangsung hingga hari kedua saat pemaparan testimoni kesuksesan pengelolaan BMT Mitra Dana Sakti Pasirsakti Lampung.
Dengan model acara seperti itu, saya memiliki kesan bahwa acara ini tidak cocok disebut sebagai Rakornas. Acaranya ini lebih banyak berisi testimoni kesuksesan daerah, sedangkan pengurus pusat NU Care LAZISNU lebih banyak menyerap informasi.
Memang paparan testimoni kesuksesan daerah perlu diberi diakomodir agar saling menginspirasi untuk saling diduplikasi di masing-masing daerah. Akan tetapi hal ini tentu tidak tepat jika disebut dengan istilah Rapat Kordinasi Nasional (Rakornas). {abc}

Post a Comment

0 Comments