Subscribe Us

header ads

Mengemas Amaliyah Jamaah dalam Bingkai Jam'iyyah



Nahdlatul Ulama (NU) di tingkat akar rumput selama ini dikenal hanya dalam bentuk kultural melalui berbagai amaliyah sehari-hari. Dzikir tahlil, istighatsah, pembacaan surat Yasin, pembacaan shalawat Nabi dan khatmil quran adalah diantara sekian banyak amaliyah kultural itu. Meskipun NU secara organisasi tidak menggerakkannya, segala amaliyah itu telah berjalan secara kultural.
Seiring mulai meningkatnya kesadaran berorganisasi NU, Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Pacarpeluk kini mengemas amaliyah kultural itu dalam bingkai organisasi. Melalui cara ini, warga Nahdliyyin tidak sekadar mengenal NU secara kultural, namun juga secara struktural jam'iyyah. 
Di dusun Pacar, Pengurus Ranting Muslimat NU mengemasnya dengan nama Majelis Dzikir Yasin, Tahlil, dan Istighatsah (YASTAIS). Di dusun Peluk, Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Pacarpeluk mengemasnya dengan nama Majelis Dzikir, Doa dan Khatmil Quran. Di dusun Tegalrejo ada Majelis Lailatul Ijtima'. Semua majelis digerakkan oleh para PRNU Pacarpeluk beserta badan-badan otonomnya. 
Cara semacam ini ternyata benar-benar efektif mengenalkan NU secara jam'iyyah kepada jamaah. Secara perlahan, sinergi antara jamaah dan jam'iyyah ini pasti akan berlangsung secara harmoni.
Dalam prakteknya, tentu pengurus NU tidak bisa serta merta mengklaim amaliyah-amaliyah yang telah berjalan itu sebagai ‘milik’ NU. Klaim semacam itu sebenarnya tidak begitu penting. Yang paling penting adalah menempatkan jam’iyyah NU sebagai motor penggeraknya. Bagaimanakah caranya?
Dalam hal ini PRNU Pacarpeluk telah melakukan cara-cara strategis, sehingga mendekatkan jam’iyyah NU kepada jamaahnya. Pintu awal yang dimasukinya adalah pengelolaan Zakat. Infak dan Sedekah. Cara ini benar-benar sangat ampuh. Dalam waktu yang relatif singkat, keberadaan jam’iyyah NU benar-benar bisa dikenal oleh jamaah, apalagi setelah program-program populis penyalurannya telah dirasakan nyata oleh jamaah.
Setelah memasuki pintu awal itu, PRNU Pacarpeluk segera melakukan langkah-langkah lanjutannya yaitu pendekatan kultural kepada para penggerak amaliyah kultural NU baik yang ada di masjid, musholla atau di rumah-rumah jamaah. Memang sebagian besar mereka adalah para pengurus NU dan badan-badan otonomnya di desa ini, namun mereka tidak bergerak atas nama jam'iyyah. Karena selama ini secara organisasi, NU Pacarpeluk mati suri, maka mereka bergerak sendiri-sendiri.
Komunikasi dengan pendekatan kultural ini akhirnya menemukan titik temu persamaan, bahwa NU secara jam’iyyah harus hadir. Para pengurus NU yang telah menjadi penggerak amaliah-amaliah tersebut diminta tetap bergerak sebagaimana biasanya, namun dengan kemasan resmi dari jam’iyyah NU. Bagaimanakah caranya?
Cara yang paling sederhana setelah dicapai kesamaan persepsi itu adalah membranding dan melabeli amaliah-amaliah tersebut sebagai bagian dari gerakan jam’iyyah NU. Kehadiran pengurus NU dalam majelis amaliah-amaliah tersebut menjadi keharusan minimalnya. Konsekwensinya, pengurus harus berkeliling dari dusun ke dusun untuk menyapa jamaahnya. 
Selain itu labelisasi kegiatan dalam bentuk banner backdrop juga menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Setelah itu publikasi dalam bentuk pemberitaan dalam media online benar-benar sangat efektif untuk membangkitkan kebanggaan sebagai warga NU baik secara kultural maupun struktural; baik secara jamaah maupun jam’iyyah.
Semua cara dan strategi ini tidak membutuhkan biaya yang mahal. Selama para kader penggerak jam’iyyah ini bersedia meluangkan waktu dan pikiran kreatifnya, pasti hal itu bisa direalisasikan. Selain itu, yang lebih pokok lagi, bahwa semangat ibadah dan pengabdian untuk menghadirkan kemanfaatan kepada masyarakat adalah modal utama yang tidak boleh diabaikan. Bagaimanapun juga ini adalah gerakan sosial keagamaan yang nirlaba yang tidak bisa diperlakukan sebagaimana kerja professional yang berorientasi pada laba. Tanpa semangat itu, gerakan ini pasti tidak akan langgeng (gerakan sak gradakan). 
Jika jam'iyyah NU anda juga mengalami masa-masa kelam sebagaimana di Pacarpeluk, maka selamat menduplikasi apa-apa yang telah dilakukan oleh NU Pacarpeluk ini. Tentunya duplikasi ini harus disesuaikan dengan konteks sosial masing-masing desa atau daerah. Selamat mencoba. Mari kita bersama-sama bergerak dan menggerakkan jam'iyyah dan jamaah NU secara serentak untuk menyongsong 100 tahun kebangkitan jam'iyyah ini.{abc}

Post a Comment

0 Comments