Subscribe Us

header ads

Menguak Maksud Santunan Duka Air Minum Kemasan

Penyerahan santunan duka kepada pihak shahibul mushibah

Santunan duka yang berupa pemberian air minum kemasan adalah salah satu bentuk penyaluran pengelolaan hasil kaleng koin sedekah. Santunan ini diberikan kepada keluarga yang mendapat musibah kematian. Awalnya, jumlahnya adalah 5 (lima) dus air minum kemasan. Setelah perolehan sedekah semakin meningkat, jumlahnya ditingkat menjadi 10 (sepuluh) dus.
Air minum kemasan ini dipilihkan dari produk warga NU. Tujuannya tentu untuk saling berbagi kebaikan kepada seluruh masyarakat khususnya, kaum Nahdliyyin. Dengan sederhana ini produk-produk warga NU bisa dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat luas.
Santunan duka ini sebenarnya dimaksudkan untuk meringankan beban keluarga shahibul musibah. Cukup dengan air minum kemasan ini diharapkan keluarga shahibul musibah tidak perlu lagi menyediakan suguhan konsumsi untuk jamaah pengajian dzikir tahlil selama tujuh hari kematian.
Sebagaimana tradisi yang telah berlaku di masyarakat Nahdliyyin Pacarpeluk, mereka selalu menyelenggarakan pengajian dzikir tahlil selama tujuh hari kematian. Ini adalah tradisi yang baik dengan tujuan baik. Ini adalah kearifan lokal masyarakat muslim di Nusantara ini. 
Meskipun demikian, tradisi ini perlu dikemas dan disesuaikan ulang dalam pelaksanaanya, sehingga benar-benar menjadi tradisi yang sejalan dengan syariat dan maslahat bagi masyarakat. Menurut PRNU Pacarpeluk, pengemasan dan penyesuaian ulangnya terletak pada penyediaan suguhan konsumsi bagi para jamaah pengajian kematian ini. 
Selama ini, keluarga shohibul musibah selalu menyediakan suguhan konsumsi untuk para jamaah pengajian itu, hingga tujuh hari kematian. Hal ini tentu sangat memberatkan, karena jumlah jamaah pengajian ini tak terbatas. Mereka datang dengan sukarela tanpa undangan. Jumlahnya tidak menentu, kadang banyak dan kadang sedikit 
Sesederhana apapun suguhan yang diberikan tentu nominalnya akan sangat besar, karena keluarga shohibul musibah pasti akan selalu menyediakan dalam jumlah banyak. Hal ini pasti sangat memberatkan, apalagi jika keluarga shohibul musibah tergolong keluarga yang berekonomi menengah ke bawah. Mereka tidak bisa menolak, karena warga yang lain juga melaksanakan hal yang serupa.  
Dilihat dari aspek syariat, hal ini pasti tidak tepat. Syariat mengajarkan kita menghibur dan bahkan melayani keluarga shahibul musibah. Seharusnya kita yang memberikan makanan untuk mereka yang berduka, bukan malah sebaliknya. Tradisi nglawat (ta'ziyah) dengan memberi beras atau uang adalah tradisi yang sangat sejalan dengan substansi sunnah Rasulullah SAW. Tradisi ini perlu dilestarikan. 
Mari kita renungkan kembali, apakah menyuguhi konsumsi untuk jamaah pengajian itu yang jumlahnya tidak tentu, itu sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW? PRNU Pacarpeluk menganggap hal itu kurang sesuai. 
Sebagai solusinya maka dihadirkanlah Santunan Duka dengan air minum kemasan itu. Dengan santunan itu, keluarga shahibul musibah diharapkan tidak lagi menyediakan suguhan. Suguhannya cukup air minum kemasan itu yang diberikan oleh PRNU Pacarpeluk.
Diharapkan pula, keluarga shahibul musibah baru boleh memberikan konsumsi berkat kepada jamaah pengajian itu pada acara pengajian yang terakhir (hari ketujuh). Keluarga shahibul musibah juga diharapkan tidak menambahi dengan uang dalam berkat itu. 
Hal ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk mencegah atau menghalangi seseorang bersedekah, tapi mengaturnya demi kemaslahatan yang lebih luas dalam masyarakat. Silakan saja bersedekah pada acara pengajian berikutnya yang benar-benar telah disiapkan oleh keluarga shahibul musibah.   
Hal semacam ini memang perlu diatur dan disepakati bersama, karena tradisi pengajian kematian hingga tujuh hari berbeda pelaksanaan dengan pengajian 40 (empat puluh), 100 (seratus) dan 1000 (seribu) hari kematian. Nuansa pengajian kematian hingga tujuh hari adalah nuansa berkabung dan duka, sedangkan masyarakat datang sukarela tanpa undangan resmi. Nuansa pengajian 40 (empat puluh), 100 (seratus) dan 1000 (seribu) hari kematian adalah khidmat untuk bersedekah yang telah disiapkan oleh pihak keluarga shohibul musibah, sehingga jumlah tamu undangan disesuaikan dengan kemampuan dan persediaan yang telah disiapkan. 
Jika pelaksanaan tradisi ini bisa sejalan dengan sunnah Rasulullah SAW dan kemaslahatan masyarakat luas berdasarkan kesepakatan bersama, niscaya kita bisa berilslam dan bermasyarakat secara harmoni. Ini lah potret kearifan lokal yang harus dilestarikan di bumi Nusantara ini. {abc}

by
Nine Adien Maulana 
Ketua PRNU Pacarpeluk

Post a Comment

0 Comments