Subscribe Us

header ads

Indahnya Lebaran Kupatan Nahdliyin Pacarpeluk

Kenduri Kupatan: tradisi tahunan seminggu setelah Idul Fitri
Salah satu bentuk kearifan lokal melengkapi Ramadhan dan Syawal adalah Lebaran Kupatan. Tradisi ini diekspresikan dalam bentuk kenduri makanan khas Kupat, Lepet, Lemet dan Lontong. Semua masakan ini memiliki karakter yang khas yakni berbahan beras dan dimasak dengan cara direbus.
Jamaah NU Pacarpeluk menyelenggarakan tradisi ini seminggu setelah Idul Fitri, tepatnya pada tanggal 8 Syawal. Biasaya acara kenduri makanan khas ini diselenggarakan pada pagi hari bakda shalat Shubuh. Waktu ini diasumsikan sebagai waktu tuntasnya jamaah melaksanakan puasa sunnah 6 hari setelah Idul Fitri.
Kenduri kupatan tahun ini dilaksanakan bakda shalat Maghrib (Kamis, 21/6) oleh jamaah NU Pacarpeluk. Hal dilakukan dengan pertimbangan kemaslahatan. Biasanya tiap malam Jumat banyak jamaah hadir shalat Maghrib. Selain itu jamaah anak-anak juga bisa mengikutinya. Hal ini berbeda, jika dilaksanakan bakda shalat Shubuh.
Kenduri kupatan di masjid pinggir sungai Brantas ini diisi dengan tausiyah oleh ketua Takmir Masjid Baitul Muslimin, Nine Adien Maulana. Dalam tausiyahnya, penggerak NU Pacarpeluk ini menyampaikan pentingnya bersikap bijaksana dalam beragama dan berbudaya. “Jika kita selalu bersikap memusuhi budaya atas nama agama, maka pasti ada pemahaman kita yang tidak sempurna terhadap agama.”
Acara ini pun dipungkasi dengan pembacaan kalimat thayyibah tahlil yang dipimpin oleh Fatoni,salah satu imam masjid ini. Setelah itu pembacaan doa, jamaah pun bersama-sama menikmati makanan khas kenduri kupatan itu. Mereka duduk melingkar mengelilingi talam yang berisi makanan khas itu sambil ngobrol ringan. Sungguh ini adalah kearifan lokal yang layak dilestarikan. {abc}  


Diawali dengan pembacaan dzikir dan doa
Jamaah putri membentuk kelompok kenduri tersendiri.
Kebersamaan dan kekeluargaan hadir dalam tradisi ini.

Post a Comment

0 Comments