Subscribe Us

header ads

Kabeh Wes Ono Tulisane

"Kabeh Wes Ono Tulisane" tidak sekadar desain kaos NUP

Oleh: 
Soraya Dimyathi (Putri KH. A. Dimyathi Romly)

Semua sudah ada tulisannya. Sebagai orang beriman, kita mempercayai pada qadha dan qadar, yaitu ketentuan dan takdir Ilahi.
Qadar adalah ketentuan Allah yang telah ditetapkan seja zaman azali, dan qadha adalah pelaksanaan qadar ketika ketentuan Allah itu terjadi. Namun, sebagian ulama menyebutkan keduanya memiliki makna yang sama. Tentu  penulis tidak akan menjelaskan panjang lebar akan pengertian istilah ini.
Bagi penulis, yang terpenting adalah esensi dawuh Ayah di atas, bahwa semua sudah ada tulisannya. Allah telah menggariskan jalan hidup manusia. Sebagaimana yang terjadi ketika kita masih berupa janin yang berusia empat bulan dalam kandungan ibu kita.
“Sesungguhnya setiap orang diantara kamu dikumpulkan kejadiannya di dalam rahim ibunya selama 40  hari dalam bentuk nuthfah (air mani), kemudian menjadi ‘alaqoh (segumpal darah) selama waktu itu juga (40 hari), kemudian menjadi mudhghoh (segumpal daging) selama waktu itu juga, lalu diutuslah seorang malaikat kepadanya, lalu malaikat itu meniupkan ruh padanya dan ia diperintahkan menulis empat kalimat: Menulis rizkinya, ajalnya, amalnya, dan nasib celakanya atau keberuntungannya.” (HR. Bukhori dan Muslim)  
Dengan memahami hakikat ini, maka yang bisa kita lakukan adalah terus membumikan usaha dan melangitkan doa kita. Tugas kita adalah menjalani kehidupan ini dengan sebaik-baiknya sesuai yang diperintahkan Allah dan dicontohkan Rasulullah. Berpikir yang baik, berkata yang baik, bertindak yang baik, maka yang akan kita dapat hanyalah kebaikan.
Seperti yang dikatakan Sayyidina Umar bin Khattab ra., tentang hakikat takdir, “Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak pernah melewatkanku.”
Artinya, tidak ada lagi yang harus kita risaukan, meyakini dan berprasangka baik kepada Allah adalah bentuk kepasrahan dan keridhaan atas semua kehendak-Nya. Allah berfirman dalam hadis qudsi, “Aku sesuai prasangka hambaku, dan Aku bersamanya apabila ia memohon kepada-Ku.”
Maka teruslah memohon dan berdoa. Saat permohonan kita terkabul, bergembiralah, karena itu sesuai keinginan kita. Namun, bila doa kita belum diijabah, lebih bergembiralah, karena itu pasti keinginan Allah yang Mahatahu apa yang terbaik dan kita butuhkan.
Dengan ketenangan dan keyakinan seperti ini, akan mendatangkan kecintaan dan keridhaan dari Allah Swt. Sekali lagi semua suda ada tulisannya. Sejauh mana usaha kita, semua sudah ada ketentuannya. Allah memang senang melihat usaha kita, tapi Allah lebih mencintai kita karena ridha kita terhadap semua keputusan-Nya. {abc}  
Semua sudah ada tulisannya. Sebagai orang beriman, kita mempercayai pada qadha dan qadar, yaitu ketentuan dan takdir Ilahi.
Qadar adalah ketentuan Allah yang telah ditetapkan seja zaman azali, dan qadha adalah pelaksanaan qadar ketika ketentuan Allah itu terjadi. Namun, sebagian ulama menyebutkan keduanya memiliki makna yang sama. Tentu  penulis tidak akan menjelaskan panjang lebar akan pengertian istilah ini.
Bagi penulis, yang terpenting adalah esensi dawuh Ayah di atas, bahwa semua sudah ada tulisannya. Allah telah menggariskan jalan hidup manusia. Sebagaimana yang terjadi ketika kita masih berupa janin yang berusia empat bulan dalam kandungan ibu kita.
“Sesungguhnya setiap orang diantara kamu dikumpulkan kejadiannya di dalam rahim ibunya selama 40  hari dalam bentuk nuthfah (air mani), kemudian menjadi ‘alaqoh (segumpal darah) selama waktu itu juga (40 hari), kemudian menjadi mudhghoh (segumpal daging) selama waktu itu juga, lalu diutuslah seorang malaikat kepadanya, lalu malaikat itu meniupkan ruh padanya dan ia diperintahkan menulis empat kalimat: Menulis rizkinya, ajalnya, amalnya, dan nasib celakanya atau keberuntungannya.” (HR. Bukhori dan Muslim)  
Dengan memahami hakikat ini, maka yang bisa kita lakukan adalah terus membumikan usaha dan melangitkan doa kita. Tugas kita adalah menjalani kehidupan ini dengan sebaik-baiknya sesuai yang diperintahkan Allah dan dicontohkan Rasulullah. Berpikir yang baik, berkata yang baik, bertindak yang baik, maka yang akan kita dapat hanyalah kebaikan.
Seperti yang dikatakan Sayyidina Umar bin Khattab ra., tentang hakikat takdir, “Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak pernah melewatkanku.”
Artinya, tidak ada lagi yang harus kita risaukan, meyakini dan berprasangka baik kepada Allah adalah bentuk kepasrahan dan keridhaan atas semua kehendak-Nya. Allah berfirman dalam hadis qudsi, “Aku sesuai prasangka hambaku, dan Aku bersamanya apabila ia memohon kepada-Ku.”
Maka teruslah memohon dan berdoa. Saat permohonan kita terkabul, bergembiralah, karena itu sesuai keinginan kita. Namun, bila doa kita belum diijabah, lebih bergembiralah, karena itu pasti keinginan Allah yang Mahatahu apa yang terbaik dan kita butuhkan.
Dengan ketenangan dan keyakinan seperti ini, akan mendatangkan kecintaan dan keridhaan dari Allah Swt. Sekali lagi semua suda ada tulisannya. Sejauh mana usaha kita, semua sudah ada ketentuannya. Allah memang senang melihat usaha kita, tapi Allah lebih mencintai kita karena ridha kita terhadap semua keputusan-Nya. {abc}  

Referensi utama tulisan di atas.

Post a Comment

0 Comments