Subscribe Us

header ads

Mengenal Tradisi Megengan

Pemakaman dusun Peluk makin ramai diziarahi warga menjelang bulan Ramadlan.


Islam di tanah Jawa memiliki karakteristik yang unik, yaitu terjalinnya interaksi harmonis antara ajaran Islam dengan budaya yang berlaku. Darinya kemudian muncul gejala keagamaan yang berbalutkan tradisi yang penuh dengan makna-makna simbolik.
Bagi saya ini adalah keindahan tersendiri yang patut dilestarikan. Mengapa? Karena dengan interaksi inilah Islam dapat diterima oleh masyarakat Jawa dengan penuh kedamaian, jauh dari konflik dan tanpa saling curiga.
Salah satu buah interaksi ajaran Islam tersebut yang sampai sekarang tetap lestari adalah serangkaian tradisi yang dilakukan untuk menyambut bulan suci Ramadlan, khususanya pada akhir bulan Sya’ban tepatnya menjelang datangnya bulan Ramadhan. Inilah ekspresi kultural kegembiraan masyarakat Jawa Islam menyambut datangnya tamu agung tersebut.
Bagi masyarakat Jawa, bulan Sya'ban ini dinamakan dengan bulan Ruwah. Konon, kata ruwah berasal dari kata ngluru dan arwah. Dalam pandangan falsafah Jawa, bulan Ruwah kemudian dipercaya sebagai saat yang tepat untuk ngluru arwah atau mengunjungi arwah leluhur.
Selama bulan Ruwah itu masyarakat Jawa mengadakan upacara Nyadran (berasal dari kata Sraddha), mengunjungi makam leluhur untuk membersihkan makam dan menabur bunga. Orang Jombang sering nyebutnya dengan istilah Nyekar , berasal dari kata Sekar  yang artinya bunga.
Upacara Sraddha ini sudah dilakukan sejak jaman Majapahit. Dalam bukunya yang berjudul Kalangwan, Sejarawan Zoetmulder juga mengisahkan upacara Sraddha pernah dilaksanakan untuk mengenang wafatnya Tribhuwana Tungga Dewi pada tahun 1352. Setelah agama Islam masuk ke tanah Jawa, upacara Sraddha tetap dilaksanakan, namun oleh Sunan Kalijaga dikemas dalam nuansa islami dan suasana penuh silaturrahmi yang diadakan tiap bulan Ruwah.
Islam memang tidak mengenal Nyadran atau Nyekar, karena istilah itu lahir dari tradisi masyarakat Jawa. Yang disyari’atkan adalah ziarah kubur yakni mengunjungi kuburan dengan maksud untuk mengambil pelajaran ('ibrah) dan ingat akan kehidupan akhirat, serta mendo’akan ahli kubur tersebut. Ini adalah bagian dari ibadah yang berpahala, dengan syarat tidak mengucapkan kata-kata yang mendatangkan murka Allah swt. Sebagai misal, meminta sesuatu kepada penghuni kubur (orang mati) dan memohon pertolongan kepada selain Allah dan semisalnya.
Dari Abu Sa'id al-Khudri r.a. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku pernah mencegah kalian dari ziarah kubur, maka (sekarang) ziaralah kuburan; karena padanya mengandung 'ibrah (pelajaran), namun janganlah kalian mengucapkan kata-kata yang menyebabkan Allah murka (kepada kalian).” (HR al-Hakim dan Baihaqi tetapi penggalan kalimat terakhir dari riwayat, al-Bazzar).
Ziarah kubur memang tidak harus dilakukan pada waktu tertentu. Kapan pun kita bisa melakukannya. Namun, jika secara budaya masyarakat telah memiliki tradisi ziarah kubur pada bulan Sya’ban (Ruwah), maka hal tersebut patut dilestarikan seraya menyempurnakan tata cara ziarah kuburnya, sehingga terhindar dari hal-hal yang bertentangan dengan syari’at.
Setelah melakukan ziarah kubur, maka ada pula tradisi yang dimaksudkan sebagai persiapan menghadapi puasa Ramadlan yang akan dilakukan pada esok harinya. Tradisi tersebut dikenal dengan istilah Megengan.  Tradisi ini juga masih lestari hingga kini, dengan berbagai penyempurnaan, khususnya dari hal-hal yang bertentangan dengan syari’at.
Secara etimologi megengan berasal dari bahasa Jawa megeng yang berarti ngeker atau menahan. Secara morfologis dari kata megeng hingga menjadi kata megengan yang ditambah akhiran an di akhir kata mengandung arti proses yang terus menerus dan juga pembentukan kata benda. Dalam tradisi lisan bahasa Jawa kata megeng sering terkait dengan megeng nafas yang mempunyai makna “terasa berat, meskipun berat harus ditahan selayaknya orang menghirup nafas.
Bila dikaitkan dengan konteks Ramadhan, kata megeng senafas dengan kata shaum yang secara bahasa juga bermakna imsak (menahan). Dalam perspektif fikih puasa diartikan sebagai proses menahan (megeng atau ngeker) dari yang membatalkan puasa seperti makan, minum dan hal-hal yang membangkitkan syahwat serta segala yang dapat membatalkannya.
Dari sini kita bisa memahami bahwa megengan merupakan suatu forum yang dimaksudkan untuk berdo’a memohon pertolongan kepada Allah SWT agar kita diberi kekuatan untuk melakukan ibadah puasa. Tanpa pertolonganNya, puasa dirasakan sebagai sesuatu yang amat berat.
Dalam forum inilah, para pendakwah Islam memaparkan hakikat puasa Ramadlan. Puasa tidak hanya menahan yang membatalkan secara dhahir ( makan, minum), melainkan juga hal-hal yang batiniah. Puasa tidak hanya menahan hal-hal yang membatalkan puasa saja, tetapi juga menahan kebiasan-kebiasan buruk setiap hari yang bersifat batiniah dan ukhrowi.
Dalam kacamata ini puasa lebih bersifat latihan rasa yang mencakup dimensi batiniah. Tidak heran dalam ungkapan lain, poso berarti ngempet roso. Ada juga yang mengartikan ngeposke roso yang mempunyai makna memberhentikan rasa. Inilah yang seyogyanya disampaikan dalam forum megengan.
Ada kekhasan dalam tradisi megengan ini, yakni adanya kue apem. Mengapa tidak yang lain? Sekali lagi itu mengandung makna simbolik. Ada filosofinya. Anda boleh terima, boleh juga menolaknya, karena memang ini hanyalah tradisi.
Sebelum puasa ada anjuran kaum muslim saling memaafkan sesamanya sehingga puasanya bisa tenang dan berkah karena telah tak ada lagi ganjalan dari rasa bersalah berdosa kepada orang lain. Dalam bahasa Arab, ‘Afwun bermakna ampunan, ma'af atau memaafkan. Maksudnya, kita diingatkan bahwa pada bulan Syaban menjelang bulan Ramadlon, kita semestinya saling mema’afkan dan banyak minta ampun kepada Allah SWT, sehingga kita mampu menjalani puasa dengan tenang.
Karena bahasa Jawa tidak mengenal huruf ‘f’, maka kata ‘Afwun itu kemudian beralih menjadi ‘apwun’, kemudian ‘apwum’, kemudian ‘apwem’ hingga akhirnya terucap ‘apem’.  Inilah yang menginspirasi adanya kue apem dalam megengan.
Kue inilah yang disajikan dalam forum megengan.  Kue inilah yang melambangkan kebersihan dan kesucian bila dilihat dari bahan dasarnya. Beras putih, makanan pokok penduduk melambangkan kesucian. Santan yang merupakan sari buah pohon yang manfaat semua bagiannya melambangkan sari atau ketulusan manusia. Gula dan garam melambangkan rasa hati. Daun yang dibentuk kerucut bermakna penerucutan semua kepada satu titik yaitu Allah SWT. Maknnya, jika semua bahan itu dijadikan satu, bunyinya adalah kesucian dan ketulusan rasa hati manusia yang ikhlas karena Allah semata.
Demikianlah fenomena keagamaan yang bersifat dinamis dan tentatif. Selama tidak ada hal-hal yang menyimpang dari syari’at, maka boleh-boleh saja kita melakukannya. Sebagai bukti bahwa tradisi ini tidak kaku adalah beralihnya jenis kue apem dari jenis kukus ke jenis cetakan yang dipanggang.
Memang kita tidak harus melakukan tradisi seperti itu, namun kita perlu bijaksana dalam menyikapinya selama semuanya tetap berada dalam bingkai yang tetap islami. Sikap bijaksana dalam memahami fenomena keagamaan ini sangat dibutuhkan agar kita tidak terjebak pada sakralisasi fenomena atau malah sebaliknya dengan sangat mudah, maaf, mengkafirkan dan menyesatkan orang lain.
Sekali lagi, fenomena keislaman bukan sesuatu yang sakral dan tidak bisa berubah. Yang tidak bisa berubah dan sakral hanyalah ajaran Islam itu sendiri. Fenomena keberagamaan Islam akan terus berkembang sesuai dengan gerak dinamis perkembangan masyarakat dan sebanyak orang yang mengamalkan Islam dalam lingkungan sosial tertentu. Justru yang harus kita perhitungkan adalah kadar percepatan kita dalam menangkat spirit islam dan mengenalkan Islam dalam masyarakat, sehingga Islam dapat diterima dan diamalkan tanpa menimbulkan konflik dalam masyarakat.   Waallahu a’lamu bis shawab.[]

Oleh: Nine Adien Maulana (Ketua PRNU Pacarpeluk)


Post a Comment

0 Comments