Subscribe Us

header ads

Meskipun Dituduh Bid'ah, Tradisi Ini Tetap Dilestarikan

Warga dusun Peluk mendoakan almarhum Samiudin yang meninggal pada Rabu sore, 11 April 2019. 


Salah satu kultur Nahdliyyin adalah pembacaan dzikir kalimat thayyibah tahlil selama tujuh hari setelah meninggalnya seseorang. Tradisi ini lebih akrab disebut Tahlilan. Tujuan utamanya adalah mendoakan ahli kubur.
Meskipun sering dituduh bid'ah, tradisi ini tetap lestari di Pacarpeluk. Tiap tiap dusun terdapat pemimpin dzikir ini. Masyarakat menyebutnya dengan istilah modin.
Di dusun Peluk, Muhammad To’ib ditunjuk masyarakat sebagai modin. Dalam praktiknya ia lebih sering berbagi tugas dengan Fatoni. Ia memimpin pembacaan surah Yasin, sedangkan pembacaan dzikir kalimat thayyibah tahlil dan doanya dilakukan oleh Fatoni.
Sejak kamis malam, 11 April 2019 dua pemuka masyarakat ini memimpin tradisi ini di rumah duka almarhum Samiuddin yang meninggal dunia sehari sebelumnya. Masyarakat sekitar rumah duka berbondong-bondong hadir mengikuti tradisi ini.
Jamaah perempuan hadir menyelenggarakan tradisi ini pada sore hari. Jamaah laki-laki hadir pada malam hari setelah shalat Isya’ sekitar pukul 19.30.
Tradisi ini dilaksanakan secara sukarela. Keluarga duka tidak perlu lagi menyediakan hidangan, karena UPZIS PRNU Pacarpeluk telah menyediakan sepuluh dus air minum kemasan. Jamaah yang hadir juga telah sepakat bahwa ada atau tidak adanya hidangan tidak hal yang utama. Mereka sadar bahwa tujuan utamanya adalah mendoakan ahli kubur. Mereka juga berharap kelak ketika meninggal dunia juga didoakan oleh saudara dan tetangganya.  

Post a Comment

0 Comments