Subscribe Us

header ads

Tetap Muliakan Apem Sebagai Makanan!

Grebek Apem Jombang yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Jombang tiap menjelang bulan Ramadhan.

Tradisi sambut Ramadhan khususnya di Jawa ini memang tidak bisa ditinggalkan dari keberadaan kue apem. Orang-orang membuat kue tersebut, kemudian saling berkirim dan berbagi kue dengan tetangga atau saudara. Ada pula yang bersama-sama membawanya ke masjid atau musholla sebagai konsumsi kenduri yang dinikmati setelah berdzikir dan berdoa untuk ahli kuburnya.   
Konon ia adalah simbol saling memberi maaf, agar manusia kembali suci dari dosa-dosa horizontal (haqqul adamy), sehingga orang dapat menjalankan ibadah Ramadhan dengan tulus. Apapun tafsir kandungan pesan dari kue apem itu tidak masalah, selama tidak menyimpang dari syariah. Itu harus dipahami sebagai kekayaan khazanah budaya kita.
Tradisi kue apem dan nyadran (ziarah kubur) pada bulan Ruwah (Sya’ban) pasti telah ada sebelum datangnya Islam ke Jawa. Abacaraka menduga, berkat kecerdasan dan kebijaksanaan para pendakwa Islam awal, tradisi itu bisa bersandingan dengan Islam dan dibersihkan unsur syirik. Para pendakwa Islam mampu melakukan islamisasi budaya secara cerdas dan bijaksana, tanpa ada konfrontasi sosial budaya. Hingga sekarang, tradisi tersebut tetap lestari dengan bentuk yang telah terislamisasi. Meskipun demikian tidak tertutup kemungkinan masih ada orang melakukan tradisi itu yang ritual yang menyimpang dari syari’ah.
Tradisi grebek atau kirap makanan hasil bumi yang dibentuk gunungan dan kemudian menjadi bahan rebutan ketika telah sampai finish, pasti juga telah ada sebelum kedatangan Islam di Jawa. Dengan keyakinan adanya berkah dalam makanan itu orang-orang rela dan gembira saja berebut dan mungkin saling desak dan injak untuk mendapatkannya.
Meskipun mengabaikan tata krama dan sopan-santun, namun hal itu mungkin menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat pada waktu itu. Hal itu mungkin menjadi simbol kepedulian penguasa kepada rakyatnya pada waktu itu, ketika mayoritas rakyat masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasarnya, yaitu makan.
Abacaraka menduga lagi para pendakwa Islam menilai ada sisi ketidakpatutan dalam tradisi grebek gunungan ini, sehingga hal ini tidak dikembangkan dan digeser kepada tradisi tumpengan. Tumpengan dapat dipahami sebagai miniatur gunungan, yang disajikan dan kemudian dinikmati dengan cara yang lebih sopan dan beradab. Substansi keduanya hampir sama yakni ada ungkapan syukur dan memberikan kesejahteraan kepada orang yang menikmatinya.     
Tumpengan lebih akomodatif terhadap tata krama, sopan-santun dan keadaban. Beda halnya dengan gunungan yang lebih mengeksplorasi euforia dan sikap berlebih-lebihan. Oleh karena itulah, kita bisa memahami mengapa tumpengan sangat populer di semua kalangan masyarakat. Ia bahkan bisa bersandingan dengan Islam. Buktinya ia biasa dibawa ke masjid atau mushalla. Beda halnya dengan gunungan yang lebih eletis, dan tampak tidak patut disandingkan dengan sentuhan syari’ah.
Jika dugaan Abacaraka ini memang benar, maka pelestarian tradisi gunungan di Jombang, kota Santri, dalam rangkaian tradisi sambut Ramadhan layak dievaluasi ulang. Beberapa tahun ini Jombang mengadakan acara seremonial budaya menyambut Ramadhan. Kegiatan ikoniknya adalah kirab ribuan kue apem yang dibentuk gunungan dan berakhir di area Pasar Ramadhan depan Gelanggang Olah Raga jalan Gus Dur. Setelah sampai di tempat finish itu dengan aba-aba tertentu dari panitia, gunungan itu menjadi sasaran rebutan. Dalam waktu sekejab ribuan apem yang berbentuk gunungan itu pun ludes. Ada yang ludes karena diambil secara berebut. Ada pula yang ludes karena terinjak-injak.
Memang acara semacam ini bisa menarik perhatian masyarakat, bahkan mungkin menjadi daya tarik pariwisata. Akan tetapi dilihat dari aspek etika sosial budaya dan adab keagamaan, hal ini menjadi anomali. Tingkat kesejahteraan masyarakat kita kini relatif berimbang. Untuk sekadar mencukupi kebutuhan dasar, mayoritas masyarakat kita tidak lagi mengalami kesulitan, sebagaimana zaman dulu. Oleh karena itu, rebutan gunungan makanan pada zaman sekarang ini tidak bisa dimakna sebagai simbol kepedulian pemimpin kepada rakyatnya. Sebaliknya, hal itu malah merendahkan martabat kemanusiaan yang beradab.
Rakyat disuruh berebutan makanan, sedangkan pemimpinnya tertawa gembira memelihatnya. Sungguh adalah pemandangan yang sangat tidak elok untuk zaman sekarang.
Mungkin ada yang mengaitkannya dengan konsep barokah. Dalam kasus ini tentu tidak pas jika makna barokah diletakkan pada peristiwa yang mengabaikan adab. Barokah selalu melekat pada sesuai yang beradab dan berkaitan dengan pengakuan kekuasaan Allah SWT. Buktinya, secara budaya kita memiliki konsep makna tentang berkat (makanan/minuman yang dikonsumsi atau dibawa pulang setelah kenduri/kundangan).  
Islam sangat mengutamakan adab. Tidak ada satu pun perilaku manusia yang luput dari ketentuan adab islami, termasuk dalam hal mengonsumsi makanan/minuman. Selain harus halal dan baik (thayyib: bersih dan bergizi), tidak berlebih-lebih dalam mengonsumsi makan/minuman adalah adab yang diperintah Allah dan Rasulullah SAW. “...makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”(TQS. Al-A’raf [7]:31)
Rasulullah SAW mencontohkan secara praktis bagaimanakah sikap tidak berlebih-lebihan dalam makan/minum. Makan dengan menggunakan tiga jari, mengambil makanan yang terdekat ketika makan bersama, dan tidak mencela makanan adalah termasuk adab yang dicontohkan beliau. Dengan pertimbangan tersebut maka kita dapat menyimpulkan dengan mudah bahwa tradsi grebek semacam itu tentu sangat jauh dari adab baik secara budaya maupun agama.    
Jangan khawatir! Ada alternatif solusinya. Jika pertimbangan penyelenggaraan kegiatan ini adalah unsur kepariwisataan, maka kirab tumpengan apem yang ditempatkan di talam atau nampan atau wadah apa saja yang sesuai layak dipertimbangkan. Bentuknya bisa seperti karnaval dengan membawa tumpengan apem dari satu titik hingga finish di titik tertentu. Semua peserta wajib membawa kreasi tumpengan apem dengan beragam kreatifitas.  Ketika telah sampai di finish, baru dilakukan acara kenduri yang diikuti oleh seluruh peserta karnaval dan masyarakat yang ikut menontonnya. Dengan cara ini, maka nasib kue-kue apem itu akan lebih terhormat, karena disajikan dan dinikmati dengan cara-cara terhormat jauh dari sikap berlebih-lebihan dan keserakahan.[] 
Oleh: Nine Adien Maulana, Ketua PRNU Pacarpeluk


Post a Comment

0 Comments