Subscribe Us

header ads

Bukan Karena Indoktrinasi dan Fanatisme Buta, Mereka Bangga Jadi Wong NU

Upaya menumbuhkan kebanggaan sebagai wong NU dilakukan melalui aksi bergerak dan menggerakkan jamaah dan jam'iyyah secara nyata dan sederhana, namun kreatif. Tanpa melalui indoktrinasi yang penuh fanatis buta, anak-anak pun bangga dan semakin percaya diri menunjukkan identitas keNUannya.  

Anak ini bernama Adam Fairunizar. Ia masih berada di kelas 5 SDN Pacarpeluk, yang masih suka bermain sebagaimana anak-anak pada umumnya. Rumahnya bersebelahan dengan rumah pergerakan NU Pacarpeluk, sehingga ia pun mengenal segala kreativitas jamaah dan jam’iyyah ini.
Ternyata pengenalannya ini lambat laun menumbuhkan simpati. Ia mulai mengidentifikasi sebagai bagian dari jamaah dan jam’iyyah NU, apalagi tiap hari ia mengerjakan shalat di Masjid Baitul Muslimin dengan amaliyah fiqih kultural Nahdliyyin. Lebih-lebih saat diajari mars Syubbanul Wathan yang sekarang poluler di kalangan Nahdliyyin, ia pun dengan cepa menghafalnya dan dengan percaya diri menyanyikannya bersama teman-teman ngajinya.
Ketika PRNU Pacarpeluk pertama kali melaunching kaos-kaos NUP dengan desain keNUan, ia merajuk orang tuanya untuk membelikannya. Apalagi beberapa teman sebayanya juga dengan mengenakan kaos hitam yang bagian punggung atasnya tertera logo NU dan tagline Bangga Dadi Wong NU.  
Sayangnya rajukan dan rengekannya harus berakhir dengan kekecewaan. Stok kaos NUP yang ada tidak yang sesuai dengan ukuran tubuhnya yang kecil. Rumah kaos NUP saat itu masih menyediakan ukuran M sebagai ukuran terkecil, sedangkan ukuran M baginya masih terlalu kebesaran.
Baru saat meluncurkan desain terbaru, logo NU dengan kutipan wasiyat KH. Bisri Syansuri, Rumah Kaos NUP menyediakan ukuran S. Hal ini dimaksudkan untuk mengakomodir customer dari kalangan anak-anak yang ingin memiliki kaos yang menegaskan identitas keNUannya.
Tampak kegembiraan khas anak-anak terpancar dari wajah Adam. Kini ia bisa mengenakan kaos NUP sesuai dengan ukuran tubuhnya. Kini ia bisa bersama-sama dengan memakai kaos dengan desain sama yang lebih dulu telah dipakai oleh Caraka Shankara, teman bermainnya.
Sedemikian senangnya, ia pun senang-senang saja saat difoto dengan mengenakan kaos tersebut. Wacana Bawana yang masih balita pun diajaknya berfoto bersama dengan pose khas jempol. Jempol ini mengisyaratkan kebanggannya sebagai wong NU. Jempol untuk jamaah dan jempol pula untuk jam’iyyah.
Jika apa dialami oleh Adam ini termasuk bagian proses kaderisasi, maka ini merupakan kaderisasi kultural yang digerakkan NU secara struktural. Jamaah tidak diindotrinasi. Jamaah tidak digiring menjadi orang yang fanatik buta kepada jam’iyyah dan simbol-simbolnya. Namun atas dasar pengenalannya sendiri dan pilihannya sendiri serta kesadarannya sendiri memilih mengidentifikasi diri sebagai bagian dari jamaah dan jam’iyyah NU. Mereka pun bangga jadi wong NU secara alami.
Dengan cara ini, kader-kader yang dihasilkan adalah kader-kader cerdas, kreatif dan toleran, serta tidak fanatik buta dengan identitasnya. Mereka bisa bersama-sama bergerak dan menggerakkan jamaah dan jam’iyyah dengan semangat fastabiqul khairat di tengah-tengah masyarakat Pacarpeluk yang majelmuk. {abc}         

Post a Comment

0 Comments