Subscribe Us

header ads

Kenduri Idul Fitri, Tradisi Nahdliyyin Pacarpeluk yang Tetap Lestari

Secara spontan jamaah datang ke tempat shalat Idul Fitri dengan membawa ambeng untuk dimakan bersama-sama setelah shalat. Kundangan atau Kenduri Idul Fitri ini diawali dengan dzikir dan doa untuk ahli kubur jamaah.

Takbir, Tahlil dan Tahmid terus dikumandangkan sambil menunggu jamaah hingga menjelang pelaksanaan shalat Idul Fitri. 
Setelah shalat Idul Fitri dan bersalam-salaman, jamaah tidak langsung pulang untuk melaksanakan tradisi Kenduri Idul Fitri dengan diawali dzikir dan doa untuk ahli kubur jamaah.
Dzikir dan doa yang paling populer diamalkan oleh jamaah adalah kalimat thayyibah tahlil yang dipimpin oleh pemuka agama Islam.
Baik yang berada di dalam masjid maupun di luar masjid, jamaah tetap mengikuti dzikir dan doa dengan khidmat.
Jamaah putri mengikuti shalat dan kenduri di halaman masjid Baitul Muslimin dengan beralaskan tikar.
Sebagian jamaah menghitung perolehan kotak infaq saat pelaksanaan shalat Idul Fitri.
Puncak acara kenduri setelah berdoa adalah makan-makan bersama, menikmati ambeng yang dibawa oleh jamaah.

Kebersamaan dan keguyupan terbina melalui tradisi kenduri, yakni makan secara berjamaah.
Tradisi kenduri semacam ini tetap lestari karena terus dilaksnakan dalam berbagai hajat.
Kenduri atau Kundangan menjadi media pelaksanaan sedekah dalam bingkai kultural.
Semuanya bersama-sama berkumpul, berdoa dan menikmati ambeng secara bersama-sama sebelum akhirnya bubar pulang dengan membawa berkat dari ambeng tersebut.  

Post a Comment

0 Comments