Subscribe Us

header ads

Kitab Kyai Jombang Diterbitkan Penerbit Mesir

Ini adalah tampilan edisi cetak sampul depan karya tulis Dr. KH. Muhammad Afifuddin Dimyathi, Lc. MA yang telah diterbitkan Penerbit Daar ash-Shalih, Kairo, Mesir

Kreativitas dan produktifitas Gus Awis dalam menulis buku-buku ilmiah berbahasa Arab patut diapresiasi. Lebih dari sepuluh karya tulis berbahasa Arab Dr. KH. Muhammad Afifuddin Dimyathi, Lc. MA ini telah diterbitkan oleh penerbit dalam dan luar negeri. 
Setelah sukses menerbitkan karyanya yang berjudul Irsyaadud Daarisiin Ilaa Ijmaa’il Mufassirin melalui penerbit dalam negeri, kini Daar ash-Shalih, salah satu penerbit ternama di Kairo, Mesir pun menerbitkan dan memasarkan karya pengasuh Ponpes Darul Peterongan Jombang ini di sana. 
Dalam bukunya itu, dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini menghimpun 121 ayat yang didalamnya terdapat lafadz-lafadz yang maknanya telah disepakati (ijma’) oleh para mufaasir dalam berbagai kitab tafsir mereka. Ayat pertama yang dihimpun adalah ayat ketujuh surat al-Fatihah. Di dalamnya ada dua lafadz al-maghdhuub ‘alaihim yang tidak bisa diterjemahkan secara bahasa sebagai ‘orang yang dimarahi’, dan adh-Dhaallin yang juga tidak bisa diartikan sebagai ‘oran-orang yang tersesat’. Akan tetapi para mufassir telah sepakat bahwa yang dimaksud lafadz pertama adalah orang-orang Yahudi dan lafadz kedua adalah Nasrani.
Ayat terakhir yang dihimpun oleh alumnus MAPK/MAKN Jember ini adalah ayat kedua dan ketiga surat At-Tiin. Dia menuliskan bahwa para mufassir menyepakati bahwa yang dimaksud dengan lafadz siiniin adalah sebuah gunung yang ada di kota Syam yang menjadi saksi percakapan Nabi Musa as dengan Allah SAW. Menurutnya, secara ijma’ maksud lafadz al-Balad dalam ayat ketiga surat At-Tiin adalah kota Makkah. Oleh karena itu tidak sepatutnya bagi pembaca Al-Qur’an mengartikan lafadz tersebut sebagai ‘kota atau negeri’ secara umum.   
Dengan terbitnya karya kyai Jombang ini di Mesir, maka citra intelektual dan keulamaan Nusantara ini makin diakui secara internasional. Ilmu keislaman dan liguistik Arab tidak lagi selalu merujuk kepada ilmuan Arab, namun ilmuan Nusantara juga bisa menjadi referensi. {abc}  

Post a Comment

0 Comments