Subscribe Us

header ads

Abadomba Tidak Sekadar Pengusaha Ternak Domba

Peternakan domba yang dikelola oleh KSU KUBe NUP Pacarpeluk yang dibina oleh Yayasan Astra Honda Motor ini merupakan salah satu upaya nyata saling menghidupi jamaah dan jam'iyyah NU Pacarpeluk.

Kok Abadomba? Mengapa tidak Abudomba (tanpa spasi) atau Abu Domba (dengan spasi)? Jawabnya simpel kok, yaitu supaya lebih membumi. 
Diksi Aba itu lebih menusantra, daripada Abu. Di Nusantara ini, orang yang telah menjalankan ibadah haji biasanya dipanggil dengan sapaan Aba. Tidak hanya itu, orang aktif dalam urusan ibadah, kegiatan keislaman atau menjadi aktivis penggerak organisasi massa Islam, meskipun belum haji, juga disering disapa dengan Aba atau Gus.
Beda dengan Abu. Diksi ini lebih ideologis ekslusif. Mereka yang aktif dalam gerakan dakwah (harakah) Islam biasanya memakai nama laqab dengan awalan Abu. Nama laqab dengan awalan Abu ini biasanya dipakai setelah mereka diambil janji setia (bai'at) terhadap cita-cita bersama yang diperjuangkan. 
Atas dasar itulah ketua KSU KUBe NUP Pacarpeluk lebih suka menggunakan diksi Abadomba, karena selama ini ia juga melaqabi dirinya dengan Abacaraka, maklum anak pertamanya bernama depan Caraka.  Abadomba secara bahasa berarti bapak (nya) domba, karena memang ia memelihara domba. Meskipun ia tidak secara langsung menanganinya sendiri di lapangan, namun secara menejerial dan konseptual ia terlibat dalam pengelolaan unit usaha peternakan/penggemukan domba. Tenaga dan pikirannya juga dicurahkan untuk menjalankan usaha ini. Dengan demikian, Abadomba juga bisa disebut sebagai pengusaha ternak domba. 
Abadomba sebenarnya dimaksudkan lebih luas dari makna literal itu. Ia adalah sebuah visi mulia untuk saling menghidupi jamaah dan jam'iyyah melalui unit usaha ternak domba. Hal ini memang sangat potensial diwujudkan di Pacarpeluk karena ada banyak warga yang memelihara domba atau kambing. Ada juga yang memelihara sapi atau lembu. Mereka bergerak secara sendiri-sendiri tanpa adanya wadah atau organisasi yang menaunginya, sehingga daya tawarnya kepada pihak luar kurang kuat.
Melalui KSU KUBe NUP Pacarpeluk, Abadomba bisa bersama-sama dengan jamaah lainnya yang juga memelihara ternak, khususnya domba atau kambing bersinergi. Dengan sinergi ini, pasti jamaah lebih kuat dan produktif, sehingga daya tahan dan tawarnya lebih kuat daripada berjalan sendiri-sendiri. 
Memang hingga kini Abadomba masih sendiri dalam mengelola unit usaha yang dibranding Kampung Domba itu. Belum ada jamaah yang menggabung. Hal itu tidak menjadi masalah yang berarti, karena memang seperti itulah tipologi masyarakat pedesaan. Mereka masih dalam posisi menunggu dan melihat. Jika nanti usaha ini mengalami peningkatan daya tahan dan daya tawar, pasti dengan sendirinya mereka akan mendekat ke Kampung Domba. 
Pengalaman sukses bermitra dengan pelaku industri kripik pisang kepok dengan merek Khinza Banana Chips telah membuktikan. Setelah jamaah mengetahui manfaat dan keuntungannya, mereka pun akhirnya yang mendekat untuk bisa diterima bermitra. Ditunjang legalitas kelembagaan yang telah dimilikinya, Abadomba tidak khawatir jika sekarang belum ada jamaah yang bergabung.

Abadomba dan Kampung Domba sekarang ini mungkin masih penamaan biasa. Tapi dengan komitmen sungguh-sungguh antara jamaah dan jam’iyyah, ikhtiyar mulia untuk mewujudkan cita-cita mulia ini secara perlahan namun pasti akan mewujud. Sekarang memang masih waktunya menanam dan memelihara, tapi kelak pasti ada saat untuk memanennya.{abc}

Post a Comment

0 Comments