Subscribe Us

header ads

Kenduri Wiwit Nahdliyyin Pacarpeluk

Kenduri wiwit ini diselenggarakan di beranda Masjid Baitul Muslimin dusun Peluk, desa Pacarpeluk setelah jamaah melaksanakan shalat.

Salah satu tradisi kaum Nahdliyyin Pacarpeluk adalah kenduri atau kundangan dalam berbagai hajat. Inti dari tradisi ini adalah sedekah, yakni sedekah makanan kepada jamaah seraya memohon bantuan doa dari mereka.
Salah satu hajat yang diekspresikan dengan kenduri adalah hajat mengawali memanen padi. Tradisi ini dikenal dengan istilah kenduri wiwit. Wiwit artinya awal. Miwiti berarti mengawali. Dalam konteks ini para petani akan mengawali memanen padi. Dengan harapan padi itu menjadi rezeki yang halal dan barokah, maka mereka mengawalinya dengan bersedekah dan berdoa yang diwujudkan dalam tradisi keduri wiwit.  
Kenduri wiwit ini biasanya diselenggarakan di masjid atau musholla. Kadang-kadang juga diselenggarakan di rumah shohibul hajat. Para petani Pacarpeluk sudah sangat jarang menyelenggarakannya di tepi sawah.
Setelah kenduri wiwit ini shohibul hajat pun memanen padi mereka di sawah. Ada yang memanennya dengan langsung dijual kepada tengkulak. Ada pula yang memanennya dan membawanya pulang untuk dikeringkan dan disimpan untuk kemudian dijual saat harga pasaran meninggi. 
Sungguh. Inilah kearifan lokal Nahdliyyin Pacarpeluk. Ada kesadaran tauhid di dalamnya, tanpa mengabaikan ekspresi kebudayaan masyarakat sekitar. {abc}
  
Jamaah pun membagi rata makanan yang disediakan sebagai hidangan berkat bagi mereka.

Post a Comment

0 Comments