Subscribe Us

header ads

Monumen Kebangkitan NU Pacarpeluk

Masjid Baitul Muslimin dusun Peluk menjadi sentra gerakan NU Pacarpeluk. Ahad, 28 Juli 2019 para kader penggerak NU Sukodono pun ditempatkan di masjid itu untuk bersama-sama menggali pengalaman khidmat kepada Nahdlatul Ulama.

Awalnya bangunan ini diikrarkan sebagai musholla, yang diberi nama Baitul Muslimin. Letaknya di dusun Peluk, desa Pacarpeluk, Megaluh, Jombang. Posisinya persis di tepi sungai Brantas.
Meskipun belum ada organisasi Nahdlatul Ulama di desa ini, praktek amaliah ibadah di musholla ini mengikuti kultur NU. Sebelum sholat didirikan, jamaah pujian dengan dzikir doa atau shalawat, terkadang dikombinasikan dengan sajak Jawa. Setelah shalat berjamaah, imam memimpin dzikir wirid dengan bersuara (jahr). Tiap malam Jumat bakda Maghrib, jamaah selalu mengadakan dzikir Tahlil untuk mendoakan ahli kubur nya. Lebih-lebih pada malam Jumat legi, majelis ini selalu dilengkapi dengan Kenduri makanan atau minuman (ambeng).
Saat itu jamaah mengikuti mengikuti shalat Jumat di masjid Darussalam dusun Pacar. Karena daya tampung masjid itu terbatas dan jamaah dari dusun Peluk semakin banyak, akhirnya musholla Baitul Muslimin diikrarkan sebagai masjid yang digunakan untuk shalat Jumat. Sejak itulah sebagian besar jamaah dusun Peluk ikut shalat Jumat di masjid Baitul Muslimin dusun Peluk.
Ketika kepengurusan NU Pacarpeluk sudah terbentuk, kiprah jam'iyah ini belum tampak dan bisa dirasakan nyata oleh jamaah. Sekian lama jam'iyyah ini hanya sekadar ada, namun belum mampu bergerak dan menggerakkan jamaah dan jam'iyah secara lebih nyata.
Baru pada April 2017 kebangkitan NU Pacarpeluk dimulai. Masjid Baitul Muslimin ini pun menjadi monumen kebangkitannya. Semua pertemuan dan kegiatannya diselenggarakan di masjid ini.
Ketika NU Pacarpeluk makin eksis dalam berbagai aksi bergerak dan menggerakkan jamaah dan jam'iyyah, publik pun mengenalnya. Hal ini ditunjang oleh publikasi online melalui www.nupacarpeluk.com dan media sosialnya. Kunjungan demi kunjungan para kader penggerak NU dari berbagai daerah pun diterima oleh NU Pacarpeluk. Masjid Baitul Muslimin ini pun menjadi tempat penyambutannya.
Tidak berlebihan jika masjid ini disebut sebagai monumen Kebangkitan NU Pacarpeluk. Semua kegiatan keNUan lebih banyak diselenggarakan di sini. Meskipun bangunan tidak besar dan megah, namun siarnya menjadi sangat kuat. Mereka yang silih berganti berkunjung ke NU Pacarpeluk semakin menguatkan siar masjid yang menjadi monumen kebangkitan NU Pacarpeluk. {abc} 

Post a Comment

0 Comments