Subscribe Us

header ads

Wacana Mengenal NU

Hari kedua sebelum berangkat sekolah, Selasa, 16 Juli 2019, dengan gaya khasnya Wacana Bawana minta difoto di depan papan nama PRNU Pacarpeluk.

Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon
Hubbul Wathon minal Iman
Wala Takun minal Hirman
Inhadlu Ahlal Wathon (2 X)

Indonesia Biladi
Anta ‘Unwanul Fakhoma
Kullu May Ya’tika Yauma
Thomihay Yalqo Himama

Pusaka hati wahai tanah airku
Cintamu dalam imanku
Jangan halangkan nasibmu
Bangkitlah, hai bangsaku!

Indonesia negriku
Engkau Panji Martabatku
S’yapa datang mengancammu
Kan binasa dibawah dulimu


Lirik syubbanul wathan di atas adalah lirik lagu yang paling disukai oleh Wacana Bawana, putra ketiga ketua PRNU Pacarpeluk. Ia sering kali menyanyikannya, meskipun sering salah pengucapan kata-katanya. Ia pun telah hafal nada dan iramanya.
Setiap sampai pada bait "Engkau panji martabatku", ia pasti salah ucap. Ia mengucapkannya "Engkau panji martabakku". Setelah itu dia bertanya, "Yah, kok martabak?"
"Le, iku dudu' martabak tapi martabat!", jawab saya kepadanya. Pertanyaan itu sangat wajar baginya sebab selama ini yang dia tahu adalah martabak, nama salah satu makanan kesukaannya. 
"Martabat niku nopo?", tanyanya lagi. Saya pun menjelaskan artinya dengan bahasa ala anak-anak. Martabat itu kehormatan, gak boleh dijelek-jelekkan atau dihina. "Gak oleh diilok-ilokno!", tegas saya. 
"Oooo...", demikian responnya setelah menerima penjelasan singkat itu.
Karena Wacana Bawana tinggal di rumah yang menjadi sekretariat PRNU Pacarpeluk, maka sangat wajar ia akrab dengan hal-hal yang berkaitan dengan NU Pacarpeluk. Salah satunya, dia menganggap bahwa NU adalah Pacarpeluk dan Pacarpeluk adalah NU. Maka, saat ia ditanya dimana rumahnya, ia pun menjawab, "Pacarpeluk NU!". Kalau kemudian ia ditanya lagi apa itu Pacarpeluk, jawabnya adalah NU. Sebaliknya, kalau ia ditanya apa itu NU, ia pun menjawab, "Pacarpeluk sing ono bintange!".
Lambat laun pengenalannya semakin bertambah. Kini ia telah mampu mengucapkan dengan lebih tepat, yakni NU Pacarpeluk dan tidak lagi Pacarpeluk NU. Nomenklatur itu kini disematkan pada namanya dan nama anggota keluarganya. 
Saat ia ditanya, "Siapa namamu?",  dengan percaya diri ini ia menjawab, "Wacana Bawana NU Pacarpeluk!". "Siapa ayahmu?", ia pun menjawab tegas, "Mas Adien NU Pacarpeluk.!"  Siapa ibumu, lagi-lagi ia menjawab khas, "Bunda Ninik NU Pacarpeluk!".
Ternyata jawaban khas dan lucu itu kini berkembang lebih lucu lagi. Mungkin karena ia sering mendengar ucapan nupacarpeluk.com (nupacarpeluk dot kom), kini ia pun latah. Ia pun menyematkannya di belakang namanya. 
Saat ditanya, "Siapa namamu?. Kini ia pun menjawab dengan jawaban sangat panjang, "Wacana Bawana NU Pacarpeluk dok kom!". Saya pun kaget dan tertawa lucu mendengarnya. "Le dudu' dok kom tapi dot kom", jawab saya sambil membetulkan pengucapannya.
Kini ia pun lebih familier menyebutkan nama dirinya dengan orang tuanya dengan tambahan nupacarpeluk dot kom. "Wacana Bawana nupacarpeluk dot kom", "Mas Adien nupacarpeluk dot kom", dan "Bunda Ninik nupacarpeluk dot kom".
Demikianlah Wacana Bawana mengenal Nahdlatul Ulama, sangat khas anak-anak yang menggemaskan. {abc}    

Post a Comment

0 Comments