Subscribe Us

header ads

Jasa Ulama Tidak Boleh Dihilangkan dalam Sejarah Bangsa Ini

Pak Soedirman, yang merupakan seorang santri, dilantik Presiden Soekarno menjadi pimpinan Tentara Keamanan Rakyat.

NU Pacarpeluk mengolah informasi ini dari pemerhati Sejarah, Agus Sunyoto, yang telah memaparkan secara empiris bukti-bukti jasa dan peran ulama, kyai dan santri dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia. Tujuannya adalah agar fakta sejarah ini dapat diketahui oleh bangsa Indonesia, sehingga tidak melupakan, bahkan menghilangkan peran dan jasa mereka.  
Ketika Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Indonesia belum memiliki tentara.  Baru dua bulan kemudian ada tentara, yakni Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang baru dibentuk pada 5 Oktober 1945.
Tanggal 10 Oktober 1945 diumumkanlah jumlah tentara TKR di Jawa saja. Ternyata, TKR di Jawa ada 10 divisi. 1 divisi isinya 10.000 prajurit, terdiri atas 3 resimen dan 15 batalyon. Artinya, jumlah TKR saat itu ada 100.000 pasukan.
Itu adalah TKR pertama, yang kelak kemudian menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Komandan divisi pertama TKR itu bernama Kolonel KH. Sam’un, pengasuh pesantren di Banten. Komandan divisi ketiga masih Kyai, yakni kolonel KH. Arwiji Kartawinata (Tasikmalaya). Sampai tingkat resimen Kyai juga yang memimpin.
Fakta menunjukkan bahwa resimen 17 dipimpin oleh Letnan Kolonel KH. Iskandar Idris. Resimen 8 dipimpin Letnan Kolonel KH. Yunus Anis. Di batalyon pun banyak komandan Kyai. Komandan batalyon TKR Malang misalnya, dipimpin Mayor KH. Iskandar Sulaiman yang saat itu menjabat Rais Suriyah NU Kabupaten Malang. Ini dokumen arsip nasional, ada Sekretariat Negara dan TNI.
Sayangnya, semua data itu tidak dimunculkan dalam buku bacaan anak SD/SMP/SMA. Seolah tidak ada peran Kyai. KH. Hasyim Asy'ari yang ditetapkan pahlawan oleh Bung Karno pun tidak ditulis. Jadi jasa para Kyai dan santri memang dulu disingkirkan betul dari sejarah berdirinya Republik Indonesia ini.
Waktu itu, Indonesia baru berdiri. Negara tidak memiliki uang untuk menggaji tentara. Hanya para Kyai dengan santri-santri yang menjadi tentara dan mau berjuang sebagai militer tanpa bayaran. Hanya para Kyai, dengan tentara-tentara Hizbulloh yang mau korban nyawa tanpa dibayar. {abc}

Post a Comment

0 Comments