Subscribe Us

header ads

Keturunan Nabi SAW, Pencipta “Hari Merdeka”

H. Muthahar, pecipta lagu “Hari Merdeka” dan Hymne Pramuka, penyelamat Bendera Pusaka, dan bapak Paskibraka Indonesia ternyata adalah seorang Habib, yakni keturunan Nabi Muhammad, yang sangat dicintai karena akhlaknya.

Tulisan ini sengaja dibuat untuk menegaskan kembali bahwa Kemerdekaan Bangsa Indonesia tidak bisa dipisahkan dari jasa ulama. Umat Islam memiliki andil yang sangat besar dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa.
Tiap peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus, “Hari Merdeka” selalu dinyanyikan baik secara live maupun melalui putaran rekaman. Liriknya sudah sangat populer, yaitu:
Tujuh belas Agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka Nusa dan Bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka…

Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Kita tetap setia tetap sedia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia tetap sedia
Membela negara kita

Sejak kecil, saya hanya mengenal pencipta lagu ini hanya dari tulisan H. Muthahar saja, namun tidak mengetahui secara lebih lengkap tentang siapa sebenarnya ia. Baru setelah membaca-baca banyak referensi saat ingin menegaskan bahwa Ulama dan umumnya umat Islam berjasa sangat besar terhadap kemerdekaan, saya mendapatkan informasi bahwa H. Muthahar adalah seorang Habib, sebutan bagi keturunan Nabi Muhammad SAW yang sangat dicintai karena kemuliaan akhlaqnya.
Awalnya, saya mengira huruf H di depan kata Muthahar adalah singkatan dari Haji, namun ternyata dugaan saya salah. Nama lengkap H. Muthahar adalah Sayyid Husein Bin Salim Al Muthahar Atau Habib Husein Muthahar. Nasabnya sambung kepada Nabi Muhammad SAW. Ia adalah kakek Habib Umar Muthahar dari Semaraang yang aktif sebagai pendakwah masa kini.
Habib Husein Mutahar lahir di Semarang, Jawa Tengah pada tanggal 5 Agustus 1916. Meskipun ia dibesarkan di lingkungan keluarga Muslim yang taat, namun darah seni musiknya sangat mewarnai sejarah hidupnya, sehingga ia lebih dikenal publik sebagai seorang komponis lagu-lagu kebangsaan dan anak-anak.
Lagu ciptaannya yang populer adalah hymne Syukur (diperkenalkan Januari 1945) dan mars Hari Merdeka (1946). Karya terakhirnya, Dirgahayu Indonesiaku, menjadi lagu resmi ulang tahun ke-50 Kemerdekaan Indonesia.
Lagu anak-anak ciptaannya, antara lain: "Gembira", "Tepuk Tangan Silang-silang", "Mari Tepuk", "Slamatlah", "Jangan Putus Asa", "Saat Berpisah".
Sang Habib yang komponis itu ternyata juga aktif di kegiatan kepanduan. Saat gerakan kepanduan dilebur menjadi Gerakan Pramuka, ia juga aktif di dalamnya, bahkan memberikan kenang-kenangan yang tak terlupakan yaitu Hymne Pramuka. Habib Husein Mutahar lah pengarang lagu yang sangat populer di kalangan pegiat Pramuka.
Tidak hanya aktif dalam kepramukaan, Sang Habib juga tercatat sebagai tokoh yang turut membidani lahirnya Pasukan Pengibar bendera Pusaka (Paskibraka). Paskibraka adalah tim yang beranggotakan para pelajar dari berbagai belahan daerah di Indonesia. Tim ini akan mengibarkan bendera pusaka saat hari peringatan kemerdekaan RI.
Kecintaan, pengorbanan dan kiprah Sang Habib untuk bangsa dan tanah air Indonesia tak bisa disepelekan. Ia ikut dalam “Pertempuran Lima Hari” melawan Belanda di Semarang.
Ketika pemerintah pusat terpaksa pindah dari Jakarta ke Yogyakarta, ia diajak Panglima Angkatan Laut saat itu Laksamana Muda Mohammad Nazir sebagai sekretaris panglima, dan diberi pangkat kapten angkatan laut.
Ketika mendampingi Laksamana Muda Nazir yang berasal daerah Danau Maninjau Sumatera Barat itulah, Bung Karno juga merasa memerlukan Sang Habib. Bung Karno memintanya menjadi sopir yang mengemudikan mobilnya di Semarang, beberapa hari setelah “Pertempuran Lima Hari.”
Kemudian Sang Habib pun diminta oleh Bung Karno untuk dijadikan ajudan, dan diberi pangkat mayor angkatan darat.
Belanda melancarkan agresi tahun 1948, Bung Karno, Bung Hatta dan lain-lain pimpinan negara dibuang ke Sumatera, setelah serangan Belanda yang melumpuhkan ibukota Yogyakarta pada 1948 itu.
Dalam keadaan genting akan dibuang ke Sumatera itu, Bung Karno menitipkan pada Habib Husein Muthahar, bendera merah putih yang pertama kali dikibarkan pada proklamasi kemerdekaan di Pegangsaan Timur. Sembari ikut gerilya, Muthahar pun berhasil menyelamatkan bendera itu, yang kemudian dikenal sebagai Bendera Pusaka. {abc}

Ditulis dan diolah kembali oleh Nine Adien Maulana, ketua PRNU Pacarpeluk, dari berbagai sumber bacaan. 

Post a Comment

0 Comments