Subscribe Us

header ads

KH. Afifuddin Muhajir Yang Saya Tahu

KH. Afifuddin Muhajir, Rais Syuriyah PBNU masa khidmat 2019-2020.

Terus terang saya tidak mengenal secara langsung apalagi akrab dengan KH. Afifuddin Muhajir yang baru saja diangkat sebagai Rais Syuriyah PBNU masa khidmat 2019-2020 berdasarkan Surat Keputusan Pergantian Antar Waktu. Saya mengetahui beliau secara langsung saat perhelatan Muktamar NU ke-33 di Jombang.
Saat itu saya ikut nimbrung dalam sidang bahtsul masaail yang digelar di teras masjid Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Maklum, saya termasuk Rombongan Liar (Romli) karena tidak termasuk muktmirin yang resmi. Karena sidang komisi bahtsul masaail dan tempat sidangnya terbuka, saya bisa mengikutinya meskipun tidak memiliki hak bicara di forum ilmiah itu.
Dalam forum yang dimoderatori oleh Abdul Muqsith Ghazali itu saya benar-benar merasakan aura kedalaman ilmu KH. Afifuddin Muhajir. Gaya bicaranya kalem, tapi pesan-pesan yang disampaikannya sangat bernas dan mendalam, tidak kalah dengan intelektual kampus. Gaya tutur beliau saat mengemukakan pemikirannya menunjukkan sikap tawadhu’ beliau yang luar biasa.
Selebihnya tentang beliau, saya tidak memiliki pengetahuan lagi. Yang jelas saya menyimpulkan sendiri bahwa Pengasuh pondok Pesantren Asembagus Situbondo ini adalah kyai intelektual yang wirai dan tawadhu’.
Pengetahuan saya pertama kali dengan KH. Afifuddin Muhajir ini juga bersamaan dengan pengetahuan pertama saya dengan Abdul Muqsith Ghazali. Sebelumnya saya mengenal Gus Muqsith hanya melalui gagasan kritisnya tulisan-tulisannya di islamlib.com dan media massa lainnya serta tayangan diskusinya di televisi.
Terus terang dari pengetahuan itu, saat itu saya membayangkan Gus Muqsith adalah sosok yang ‘nakal’. Ternyata penilaian saya salah. Saat bertemu langsung dengannya di forum ilmiah itu, saya sangat kaget karena pria yang saya anggap ‘nakal’ itu ternyata benar-benar sebagaimana sikap santri pada umumnya yang penuh ketawadhuan kepada kyai. Tutur bahasanya juga kalem dan runtut, menandakan kedalaman ilmu yang dikuasai.       
Dari pengalaman itulah, saya mendapat pengalaman berharga bahwa jangan mudah menghakimi siapa saja semata-mata berdasarkan informasi melalui media massa yang akhirnya menggirim mengonstruksi persepsi. Karena, banyak persepsi yang terbangun ternyata tidak sesuai dengan kenyataannya. {abc}   

Ditulis oleh: Nine Adien Maulana, ketua PRNU Pacarpeluk

Post a Comment

0 Comments