Subscribe Us

header ads

Pengusul Merah Putih Sebagai Bendera Indonesia

Kecintaan Habib Idrus Salim Al Jufri kepada negeri ini luar biasa mendalam. Hal ini dibuktikan dengan usulannya kepada KH. Hasyim Asyari agar dwi warga Merah Putih digunakan sebagai bendera Indonesia. Ia juga mengarang syair kemerdekaan 17 Agustus 1945.  

Warna merah putih sebagai warna bendera atau panji-panji memiliki akar sejarah yang panjang bagi kerajaan-kerajaan di Nusantara. Dwi warna itu dipilih sebagai panji-panji kebesaran kerajaan pada waktu itu. Para pejuang muslim pada watu itu juga telah familiar dengan panji-panji merah putih.

Guru Besar sejarah dari Universitas Padjajaran Bandung, Mansyur Suryanegara menjelaskan bahwa semua pejuang Muslim di Nusantara menggunakan panji-panji merah dan putih dalam melakukan perlawanan, karena berdasarkan hadits Nabi Muhammad.

Imam Muslim berkata: Zuhair bin Harb bercerita kepadaku, demikian juga Ishaq bin Ibrahim, Muhammad bin Mutsanna dan Ibnu Basyyar. Ishaq bercerita kepada kami. Orang-orang lain berkata: Mu’adz bin Hisyam bercerita kepada kami, ayah saya bercerita kepadaku, dari Qatadah dari Abu Qalabah, dari Abu Asma’ Ar-Rahabiy, dari Tsauban, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah memperlihatkan kepadaku bumi, timur dan baratnya, dan Allah melimpahkan dua perbendaharaan kepadaku, yaitu merah dan putih. (Kitab Al-Fitan Jilid X, halaman 340 dari Hamisy Qastalani)

Ketika terjadi perang di Aceh, pejuang-pejuang Aceh telah menggunakan bendera perang berupa umbul-umbul dengan warna merah dan putih, di bagian belakang diaplikasikan gambar pedang, bulan sabit, matahari, dan bintang serta beberapa ayat suci Al Quran.

Pada Muktamar NU tahun 1937 silam, KH Hasyim Asyari mengusulkan Merah Putih menjadi warna bendera Indonesia, dan Soekarno adalah pemimpinnya, sesuai pesan yang disampaikan oleh Habib Idrus Salim Al Jufri kepadanya. Sang Habib tidak sembarangan dalam menyampaikan pesan, namun berdasarkan pesan dari Rasulullah dalam mimpinya, yakni jika Indonesia merdeka, maka warna benderanya adalah Merah Putih.

Habib Idrus Salim Al Jufri  adalah pendiri Al Khairaat di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Ia juga meruapakan adik kelas dari pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asyari.

Ia dikenal dengan Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri, lahir di Tarim, Hadramaut, Yaman, 15 Maret 1892. Pada usia 12 tahun, ia telah berhasil menghafal Alquran, 30 Juz. Ia mengembuskan napas terakhirnya di Palu, Sulawesi Tengah, 22 Desember 1969, tepatnya di usia 77 tahun.

Habib Idrus Salim Al Jufri  merupakan tokoh pejuang di Provinsi Sulawesi Tengah, dalam bidang pendidikan agama Islam. Sepanjang hidupnya, ia juga akrab disapa Guru Tua, dan dikenal sebagai sosok yang sangat cinta ilmu.

Hal ini terlihat jelas saat ia mendirikan lembaga pendidikan Islam Alkhairaat, sebagai tanda kasih nyata Habib Idrus, kepada Islam. Alkhairaat didirikan di Palu, Sulawesi Tengah, saat usia Habib Idrus menginjak 41 tahun.

Ia juga yang menginspirasi terbentuknya sekolah di berbagai jenis serta tingkatan di Sulawesi Tengah, yang dinaungi organisasi Alkhairaat. Dan terus berkembang di kawasan timur Indonesia.

Habib Idrus merupakan keturunan Rasulullah dengan silsilah sebagai berikut: As-Sayyed Idrus bin Salim bin Alwi bin Saqqaf bin Muhammad bin Idrus bin Salim bin Husain bin Abdillah bin Syaikhan bin Alwi bin Abdullah At-Tarisi bin Alwi Al-Khawasah bin Abubakar Aljufri Al-Husain Al-Hadhramiy yang mempunyai jalur keturunan dari Sayyidina Husain bin Fatimah Az-Zahra Puteri Rasulullah SAW.

Kecintaan Sang Habib kepada negeri ini begitu mendalam. Hal ini dapat dilihat dari syair berbahasa Arab yang dikarangnya. Inilah terjemah syair Kemerdekaan Republik Indonesia yang disusunnya, ketika menyambut Proklamasi, 17 Agustus 1945:
Bendera kemuliaan berkibar di angkasa, hijau daratan dan gunung-gunungnya
Sungguh hari kebangkitannya ialah hari kebanggaan, orang-orang tua dan anak-anak memuliakannya
Tiap tahun hari itu menjadi peringatan, muncul rasa syukur dan pujian-pujian padanya
Tiap bangsa memiliki simbol kemuliaan, dan simbol kemuliaan kami adalah merah dan putih
Wahai Sukarno! Telah kau jadikan hidup kami bahagia, dengan obat darimu hilang sudah penyakit kami
Wahai Presiden yang penuh berkah bagi kami, engkau hari ini laksana kimia bagi masyarakat
Dengan perantara pena dan politikmu kau unggul, telah datang berita engkau menang dengannya
Jangan hiraukan jiwa dan anak-anak, demi tanah air alangkah indahnya tebusan itu
Gandengkan menuju ke depan untuk kemuliaan dengan tangan-tangan, tujuh puluh juta jiwa bersamamu dan para pemimpin
Pasti engkau jumpai dari rakyat kepercayaan, dan kepatuhan pada apa yang diucapkan para pemimpin
Makmurkan untuk Negara pembangunan materil dan spiritual, buktikan kepada masyarakat bahwa engkau mampu
Semoga Allah membantu kekuasaanmu dan mencegahmu, dari kejahatan yang direncanakan musuh-musuh
Paparan ini semakin menegaskan bahwa peran dan jasa umat Islam, khususnya para ulama, sangat besar bagi kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu, ingatlah Jas Hijau! Jangan sekali-kali menghilangkas jasa ulama! {abc}

Baca juga!

Post a Comment

0 Comments