Subscribe Us

header ads

Bedah Pengalaman Penulisan Buku Pak Guru Nine

Di halaman Asrama Hidayatul Quran PPDU Peterongan Jombang, Nine Adien Maulana, penulis Serpihan Hikmah dari Sudut Sekolah didaulat menceritakan pengalamannya dalam menulis buku yang baru diterbitkannya itu.

Asrama Hidayatul Quran Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan Jombang menjadi tempat yang istimewa bagi Serpihan Hikmah dari Sudut Sekolah. Di tempat ini buku yang ditulis oleh Nine Adien Maulana ini resmi dilaunching pada Jumat, 16 Agustus 2019 yang lalu. Di tempat ini pula buku ini dibahas di hadapan sekitar 800 santri asrama ini dengan kemasan acara Seminar Kepenulisan dan Bedah Buku, Kamis malam, 5 September 2019.
Acara ini secara resmi dibuka oleh Dr. KH. Muhammad Afifuddin Dimyathyi, Lc. MA. Di hadapan para santri, pengasuh Asrama Hidayatul Quran ini menegaskan bahwa membaca dan menulis adalah salah satu di antara perintah dalam al-Quran.
"Ayat pertama yang diturunkan secara tegas memerintahkan membaca. Ayat ini tidak diikuti obyek yang dibaca, sehingga berlaku umum untuk 'membaca' apa saja." kata Gus Awis, panggilan akrabnya, di hadapan para peserta acara itu.
Lebih lanjut, penulis Jam'ul 'Abiir yang baru saja diterbitkan oleh penerbit Mesir ini menambahkan bahwa ayat al-Quran yang terakhir diturunkan menyiratkan perintah menulis. "Meskipun konteksnya adalah menulis atau mencatatat masalah hutang (dain), namun secara umum kita bisa mengambil pelajaran bahwa menulis adalah kecakapan yang sangat penting."    
Ibarat gayung bersambut, pesan-pesan Gus Awis ini dijelaskan secara lebih praktis dalam acara Seminar Kepenulisan dan Bedah Buku yang diisi langsung oleh penulis buku terbitan Bawana Kayana ini. Materi yang disampaikan oleh Pak Guru Nine ini bertema Sederhana Menulis dari yang Sederhana yang secara langsung ditunjukan dengan model-model tulisan yang ada di dalam buku yang dibedah itu.
"Mulailah menulis dari yang sederhana. Awalilah dengan menuliskan apa yang kita indera. Maka kita langsung bisa menghasilkan paragraf deskriptif pada tulisan itu.", ucap penulis buku yang juga ketua PRNU Pacarpeluk ini.
Memang rata-rata penulis pemula menghadapi masalah kebingungan mau menulis apa. Guru SMAN 2 Jombang ini memberi tips, "Jangan terlalu lama berdiam diri tidak menulis apa-apa. Tuliskan saja apa yang kalian lihat, dengar atua kalian bau. Ini cara yang paling sederhana."
Menjawab pertanyaan peserta saat sesi dialog, ketua PRNU Pacarpeluk ini menambahkan bahwa kesederhanaan menulis bisa juga diawali dengan menuliskan dialog atau keadaan yang dialami penulis. 
"Hampir semua tulisan saya di buku ini berangkat dari potret pengalaman saya saat berada di SD Islam Roushon Fikr, SMAN Ploso, SMPN 1 Kabuh, SMPN 1 Jombang, SMKN 3 Jombang dan SMAN 2 Jombang serta saat berada dalam masyarakat", imbuhnya.
Para santri ini sangat antusias mengikuti acara ini. Mereka memang terkondisikan ingin bisa menulis. Selain karena pengasuhnya juga merupakan penulis yang produktif, beberapa santri asrama ini juga telah menerbitkan kumpulan cerpen karya mereka sendiri.
Untuk semakin menyamangati para santri dalam menulis, Pak Guru Nine ini mengajak para santri membuat buku album santri calon alumni dalam bentuk narasi. "Amat rugi jika kita menyetak buku album tapi hanya berisi foto dan identitas serta pesan kesan yang singkat. Jika itu dikemas dengan dilengkapi narasi ala cerpen untuk akan lebih bermakna.", sarannya. 
Acara ini pun berakhir pukul 20.00. Khas pesantren, saat Pak Guru Nine turun dari panggung ratusan santri putra itu pun membuat pagar betis antri agar bisa mengecup tangan sang pemateri itu. {abc}   

     

Post a Comment

0 Comments