Subscribe Us

header ads

Dari Sudut SD Islam Roushon Fikr Jombang

SD Islam Roushon Fikr Jombang adalah sekolah pertama tempat penulis buku ini mengamalkan ilmunya setelah boyong dari Yogyakarta ke Jombang kota asal kelahirannya. 

[Jombang, NUP] - Setelah lulus dari Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, penulis “Serpihan Hikmah dari Sudut Sekolah” sempat mengajar di SMA Taman Madya Ibu Pamiyatan Yogyakarta. Di sana ia tidak lama mengajar, hanya satu semester. Karena kedua orang tuanya memerintahkannya harus boyong ke Jombang, mantan aktivis TPA Babul Ulum Janti Yogyakarta ini pun harus meninggalkan sekolah yang telah memberikan pengalaman real teaching ini.
Di Jombang alumnus MAPK/MAKN Jember ini akhirnya memilih Sekolah Dasar (SD) Islam Roushon Fikr sebagai wahana aktualisasi diri dalam menjalankan profesi keguruan. Ia tidak lagi canggung berinteraksi dengan anak-anak, karena telah memiliki pengalaman mengajar di Taman Pendidikan Al-Quran Babul Ulum Janti, Yogyakarta selama hampir 3 (tiga) tahun.
Interaksi dengan murid-murid baik di dalam kelas maupun di luar kelas menjadi pemantik semangat menggali hikmah. Di sudut sekolah inilah pria berkacamata minus ini menuliskan hikmah-hikmah itu dengan gaya bahasa khas guru SD yang berbicara dengan murid-muridnya. Tulisan-tulisan ini kemudian menjadi pengisi Buletin Dakwah Roushon Fikr yang diterbitkan tiap hari Jumat dan dibagikan ke masjid-masjid di Jombang.
Ungkapan polos murid-murid yang disampaikan kepadanya sering menjadi pengantar tulisan-tulisannya. Pengalaman bergaul dengan mereka selalu menjadi pendorong bagi alumnus IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini untuk segera mencari sudut sekolah, lalu menuliskannya dengan berbagai judul. Dari situ, ia kemudian menariknya kepada konsep-konsep dasar yang dapat diambil hikmahnya dengan maksud agar pembaca tidak sekadar mendapatkan narasi memoar biasa, namun sekaligus memperoleh hikmah darinya.
Polosnya bahasa murid-murid itu menandakan masih bersih dan suci hati mereka. Setiap cahaya ilmu yang mereka terima, kemudian terpantul kembali dalam ucapan mereka. Mungkin orang dewasa menilainya itu sebagai celoteh, namun itulah respon jujur mereka atas segala obyek yang mereka cerap. Mereka tidak basa-basi. Mereka tidak memiliki tendensi apa-apa, selain mengatakan apa adanya. Apa yang disampaikannya adalah murni ungkapan apa yang diterimanya lalu dipantulkannya kembali.
Jangan abaikan celoteh mereka. Suara mereka bisa menjadi nasihat bagi kita yang telah dewasa. Suara mereka bisa pelembut hati kita. Suara mereka bisa menjadi wasilah sampainya petunjuk Allah SWT ke dalam hati orang-orang dewasa.
Selamat membaca dan menemukan kembali hikmah baru dalam tulisan-tulisan serpihan hikmah dari pergaulan dengan anak-anak yang polos itu. {abc} 

Post a Comment

0 Comments