Subscribe Us

header ads

Pisang Sangkal, Apakah Itu?

Pohon pisang raja yang tumbuh di depan Rumah Pergerakan NU Pacarpeluk ini dianggap sebagai Pisang Sangkal. 

[Peluk, NUP] - Ini adalah pohon pisang raja seperti pada umumnya. Sekitar tiga tahun yang lalu saya telah menanamnya di sekitar rumah Pergerakan NU Pacarpeluk. Ada yang menyebutnya ini adalah jenis pisang Raja Nangka, namun saya tidak tahu pasti.
Daging buahnya berwarna orange. Ada juga yang berwarna putih kekuningan. Yang jelas pisang ini sangat enak dikonsumsi sebagai buah atau olahan kue. Saya suka mengonsumsinya baik sebagai makanan buah maupun makanan olahan.
Awalnya saya menganggap ini adalah pisang biasa sebagaimana lainnya yang ada ada di sekeliling Rumah Pergerakan NU Pacarpeluk. Saya tidak terlalu mencermati pertumbuhan batang dan buahnya. Namun, saya sanagt senang ketika mengetahui bahwa pohon pisang ini sudah berbungah (ngontong), meskipun suasana sedang musim kemarau.
Setelah buah pisang semakin membesar di tiap sisinya, siapa saja bisa melihatnya dengan mudah tandanan buahnya. Saat itulah, saya mendapatkan informasi dari Mbah Solikah yang bahwa ini pisang istimewa. Perempuan tiap hari momong anak ketiga saya mengatakan bahwa ini termasuk Pisang Sangkal.
Saya pun penasaran, lalu bertanya apa yang dimaksud dengan Pisang Sangkal. Dia pun menjelaskan bahwa orang-orang dahulu menamakan pisang raja yang pada sisir paling atas hanya terdiri dari tiga buah pisang disebut dengan Pisang Sangkal.
Mbah Kah, demikian saya memanggilnya, kemudian menjelaskan secara singkat tentang khasiyat Pisang Sangkal itu. Saya kemudian membahasakan kembali penjelasannya di sini. Ini tentu pisang langkah karena tidak semua pohon pisang raja bisa berbuah semacam itu. Pisang Sangkal ini dianggap istimewa karena sering digunakan sebagai salah satu ikhtiyar khas orang Jawa untuk menangkal hal-hal yang menyebabkan seorang wanita jauh dari jodoh padahal ia telah berumur. Pisang ini kemudian dijadikan salah satu menu yang disuguhkan dalam kenduri doa mohon dimudahkan jodoh.
Tertarik dengan penjelasan Mbah Kah, saya kemudian memposting foto Pisang Sangkal itu dalam website ini. Tujuan saya hanya sekadar informatif karena bagi saya, ini adalah hal yang baru. Tidak banyak orang yang mengetahuinya.
Setelah lebih dari dua bulan dari postingan artikel itu, kemarin (Sabtu, 23 Oktober 2019) saya diberitahu lagi oleh Mbah Kah bahwa baru saja ada orang dari pelosok Jombang yang datang ke Rumah Pergerakan NU Pacarpeluk dengan mengendarai mobil merah yang bagus. Ia mengetahui keberadaan Pisang Sangkal ini dari berselancar internet dan menemukan postingan tentang Pisang Sangkal di website ini.
Tujuannya adalah ingin membeli buah Pisang Sangkal ini sebagai salah satu ikhtiyar untuk pengobatan yang tidak dijelaskannya lebih detail. Sebenarnya orang itu lebih khusus menginginkan Pisang Sangkal yang hanya terdiri dari 1 buah pisang pada sisir bagian paling atas. Karena belum sesuai dengan harapan ia pun kembali sambil mengatakan bahwa jika Pisang Sangkal yang ini bisa digunakan maka ia akan kembali lagi esok hari untuk membelinya. 
Saya kemudian bertanya lagi kepada Mbah Kah tentang Pisang Sangkal itu 1 buah ataukah 3 buah di sisi bagian paling atas. Lagi-lagi ia menegaskan bahwa setahu dirinya sejak kecil pisang itu ya berisi 3 buah. Tapi, jika ada yang hanya berisi 1 buah pisang, tentu ini lebih istimewa dan lebih sulit mencarinya.   
Terlepas adanya anggapan bahwa Pisang Sangkal ini bertuah, bagi saya pisang Raja memang istimewa. Rasanya enak. Harga jualnya tinggi, sedangkan perawatannya tidak terlalu sulit. Daunnya pun bisa digunakan sebagai alas ambeng yang biasa dibawa jamaah NU Pacarpeluk ke masjid saat Jumat Legi untuk dimakan bersama setelah dzikir tahlil bakda shalat Maghrib. Atas dasar itulah saya memenuhi lahan kosong di sekitar Rumah Pergerakan NU Pacarpeluk ini dengan ditanamani pohon pisang raja. {abc}

Agar tidak roboh oleh terpaan angin, pisang ini disanggah dengan batang bambu dan dikurangi daunnya.

Post a Comment

0 Comments