Subscribe Us

header ads

Santri Darul Ulum Bangkitkan Sastra Pesantren

Dipandu oleh para pegiat literasi sastra baik yang berbahasa Arab maupun Indonesia, murid-murid MAN 2 Jombang menggali pengalaman membaca dan menuliskan gagasan dalam suatu karya sastra. 

[Peterongan, NUP] - Apa yang dilakukan oleh murid-murid MAN 2 Jombang yang juga santri Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang patut diacungi jempol. Mereka menerbitkan karya Antologi 114 Sastra. Ini adalah buku kumpulan puisi para santri itu dengan berbagai judul dengan setting tempat dan kultur Pesantren Njoso, demikian panggilan khas Pondok Pesantren itu.
Ahad, 20 Oktober 2019 buku antologi itu resmi dilaunching dengan kemasan acara Dialog Interaktif Sastra Pesantren. Pematerinya Aguk Irawan (Sastrawan Yogyakarta), Binhad Nurrohmat (Sastrawan Pesantren Njoso) dan KH. Muhammad Afifuddin Dimyathi (Pemerhati Sastra Arab). Para pegiat literasi pesantren ini membakar semangat murid-murid MAN 2 Jombang untuk terus menulis takut jika karyanya dinilai tidak menarik oleh orang lain.
Untuk bisa menuliskan gagasan baik berupa puisi maupun prosa, Binhad Nurrohmat mengatakan,”Kita harus banyak membaca. Membaca dan menulis adalah satu paket.”.
Lebih lanjut Aguk Irawan menambahkan,”Bacalah seratus puisi, sebelum menulis satu puisi!”. Dengan cara itu penulis akan memiliki beragam kosakata yang untuk menampung gagasan-gagasan puitisnya.
Dalam sesi dialog para santri itu memberondong pertanyaan kepada para pemateri. "Bagaimanakah jika kita menjadikan al-Quran sebagai inspirasi dalam menulis karya sastra?", tanya salah seorang santri.
"Al-Quran bukanlah karya sastra, namun ayat-ayatnya mengandung unsur sastra yang luar biasa.", jawab Gus Awis, panggilan akrab KH. Muhammad Afifuddin Dimyathi. "Kita bisa meniru pola dan gaya satra al-Quran sebagai inspirasi tulisan sastra kita.", jelas penulis kitab Asy-Syaamil fii Balaaghatil Quran". 
Dialog itu berlangsung dengan penuh antusias, meskipun cuacanya akan panas. Para santri yang berada dalam tenda di halaman madrasah itu mengikutinya hingga akhir tanpa beranjak dari tempat duduknya. {abc}  

Para pegiat literasi pesantren dengan berbagai kekhasan  ini membakar semangat para santri untuk terus berkarya karena para kyai terdahulu juga menjadikan sastra bagian dari dakwahnya.  

Post a Comment

0 Comments