Subscribe Us

header ads

Mengenal Sair Tolak Balak, Lii Khomsatun

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mendendangkan syair lii khomsatun.


[Pacarpeluk, NUP] - Saya sebenarnya sudah lama mengenal sair pujian kepada nabi Muhammad dan ahli baitnya dengan redaksi seperti ini:
لي خمسة أطفي بها حر الوباء الحاطمة
المصطفى والمرتضى وابناهما وفاطمة
Artinya:
Aku memiliki lima orang yang dengannya aku berlindung (dengankaruniaMu) dari bala bencana (lahirbatin). Yaitum, Sang Musthafa (Nabi Muhammad Saw), Al-Murtadha (Sayyidina Ali), kedua keturunan mereka (Sayyidina Hasan dan Husein), dan Sayyidah Fathimah.
Sair ini biasanya dijadikan sebagai dzikir pujian sebelum shalat berjamaah di masjid atau musholla di desa saya. Maklum kami memang mengikuti kultur beragama ala Nahdlatul Ulama.
Dulu ketika saya memahami maknanya, saya menduga bahwa sair itu berasal dari para pengikut Syiah. Pengetahuan saya masih sebatas itu. Akhirnya saya sangat jarang pujian dengan sair itu, daripada menimbulkan polemik.
Kini saat wabah Corona melanda, secara resmi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama menghimbau agar jamaah Nahdliyyin memperbanyak dzikir dengan sair itu dan shalawat thibbil. Dijelaskan pula bahwa sair itu adalah ijazah dari Hadhrotus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama saat menghadapi wabah penyakit. Saya pun kembali pede menjadikannya sebagai pujian menjelang shalat, apalagi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa juga mengampanyekannya.
Bagi saya yang menerima dan mengamalkan tradisi tawasul, sair itu tidak ada yang bermasalah. Bergantungnya hati kami tetap kepada Allah SWT, meskipun wasilahnya melalui Nabi Muhammad SAW dan ahlul baitnya. Bagi anda yang tidak nyaman dengan tawasul semacam ini ya gak usah ikut-ikutan mengamalkan sair ini.
Kemantapan saya mengamalkan sair ini bermula setelah mendapatkan keterangan dari KH Ahmad Ishomuddin, salah seorang Rais Syuriah PBNU saat ini, yang menerangkan referensi tentang sair itu. Keterangan ini saya kutip dari https://bangkitmedia.com/ini-sejarah-dan-asal-usul-doa-li-khomsatun/.
Ia menjelaskan bahwa dalam kitab al-Mulaahiq Fii Fiqhi Da’watin Nuur karya al-Syaikh Sa’id al-Nursi pada halaman 81 tertulis kalimat sebagai berikut:
وقد قال أحد الفاضلين للإستشفاء والإستشفاع:
لي خمسة أطفي بها نار الوباء الحاطمة
المصطفى والمرتضى وابناهما وفاطمة
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa setelah kalimat di atas terdapat catatan kaki yang menunjukkan referensi syair di atas, yaitu sebagai berikut:
ورد في مجموعة الأحزاب للكمشخانوي جزء ٢ ص ٥٠٥ في دعاء دفع الطاعون. وفيه : لي خمسة أطفي بها حر الوباء ٠٠٠. الخ.
Masih menurutnya, kitab di atas lengkapnya berjudul مجموعة الأحزاب الشاذلية   adalah sekumpulan hizb yang disusun oleh al-Quthb Abi al-Hasan al-Syadzili yang dikumpulkan oleh al-Syaikh Dliya’ al-Din Ahmad bin Musthafa bin Abdurrahman al-Kamsyakhanawi al-Naqsabandi al-Mujaddidi al-Khalidi (wafat: 1311 H.)
Sair ini memang ada sedikit perbedaan pada redaksi حر الوباء, yang disebut dengan redaksi lain, namun substansi sama yaitu permohonan keselamatan dari segala hal yang mengancam jiwa.
Penjelasan lebih lengkap tentang sair ini saya peroleh dari keterangan KH Dr Edi Mulyono, Wakil ketua LTN PWNU DIY, yang dimuat dalam https://bangkitmedia.com/ini-manfaat-dan-sejarah-lahirnya-wirid-li-khomsatun/. Ia menjelaskan bahwa sair ini bersumber dari riwayat ahlul kisa’ (orang-orang yang berselimut).
Dalam artikel itu dijelaskan bahwa Rasulullah Saw sedang berada di kediaman salah satu istrinya, Ummu Salamah. Beliau kemudian memanggil Fathimah Ra, Sayyidina Ali bin Abi Thalib Ra, dan kedua putranya, Sayyidina Hasandan Husein Ra.
Rasulullah Saw lalu memeluk mereka, memasukkan ke dalam jubahnya, dan berdoa, “Ya Allah Swt, mereka inilah ahli baitku, bersihkanlah mereka dari dosa, dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.”
Ummu Salamah yang melihat pertistiwa itu berkata, “Aku ingin bergabung ke dalam jubah (kerudung) itu, tetapi Nabi Saw mencegahku sembari bersabda: ‘Engkau dalam kebajikan…. Engkau dalam kebajikan….’” (HR. Ath-Thabrani).
Peristiwa tersebut kini dikenal luas dengan sebutan Ahlu al-Kisa’ (Orang-orang dalam selimut). Yang dimaksud adalah Rasulullah Saw, Sayyidina Ali bin AbiThalib, Sayyidina Hasan dan Husein, dan Sayyidah Fathimah.
Peristiwa tersebut diabadikan dalam sair Lii khamsatun sebagaimana diatas. Lalu bagaimana hukum melantunkan sair pujian semacam itu kepada Rasulullah Saw? Kyai Edi Mulyono itu menjawabnya tegas, “Kemuliaan! Tanpa keraguan sama sekali.” dengan mengutip dalil QS. Al-Anfal ayat 33 yang artinya:
“Dan Allah Swt takkan menimpakan azabNya saat engkau (wahai Muhammad Saw) bersama mereka….” (bersama secara batiniah cinta untuk konteks kita kini).
Keterangan singkat ini setidak-tidaknya bisa menjadi landasan bagi saya untuk mengamalkan sair pujian kepada Nabi Muhammad Saw dan ahlul baitnya. Setidak-tidaknya, jika tradisi pujian ini berkisar di wilayah budaya, maka keterangan ini akan meningkatkan maknanya dari sekadar budaya biasa. [abc]

ditulis ulang oleh 
Nine Adien Maulana (Ketua PRNU Pacarpeluk)

Post a Comment

0 Comments